CahAya Lilin Kecil October 13 at 2:12am Reply • Report


Zaman dahulu kala, hiduplah seorang Raja. Raja ini seharusnya puas
dengan kehidupannya, dengan segala harta benda dan kemewahan yang ia
miliki. Tapi Raja ini tidak seperti itu. Sang Raja selalu
bertanya-tanya mengapa ia tidak pernah puas dengan kehidupannya. Tentu
saja, ia memiliki perhatian semua orang kemana pun ia pergi,
menghadiri jamuan makan malam dan pesta yang mewah, tetapi, ia tetapi
merasa ada sesuatu yang ku rang dan ia tidak tahu apa sebabnya.

Suatu hari, sang Raja bangun lebih pagi dari biasanya dan memutuskan
untuk berjalan-jalan di sekitar istananya. Sang Raja masuk ke dalam
ruang tamunya yang luas dan berhenti ketika ia mendengarkan seseorang
bernyanyi dengan riang… dan perhatiannya tertuju kepada salah satu
pembantunya. .. yang bersenandung gembira dan wajahnya memancarkan
sukacita serta kepuasan. Hal ini menarik perhatian sang Raja dan ia
pun memanggil si hamba masuk ke dalam ruangannya.

Pria ini, si hamba, masuk ke dalam ruangan sang Raja seperti yang
telah diperintahkan. Lalu sang Raja bertanya mengapa si hamba begitu
riang gembira. Kemudian, si hamba menjawab, “Yang Mulia, diri saya
tidaklah lebih dari seorang hamba, namun apa yang saya peroleh cukup
untuk menyenangkan istri dan anak-anak saya. Kami tidak memerlukan
banyak, sebuah atap di atas kepala kami dan makanan yang hangat untuk
mengisi perut kami. Istri dan anak-anak saya adalah sumber inspirasi
saya, mereka puas dengan apa yang bisa saya sediakan walaupun sedikit.
Saya bersukacita karena mereka bersukacita. “

Mendengar hal tersebut, sang Raja menyuruh si hamba keluar dan
kemudian memanggil asisten pribadinya masuk ke dalam ruangan.Sang Raja
berusaha mengkaji perasaan pribadinya dan mengkaitkan dengan kisah
yang baru saja didengarnya, berharap dirinya dapat menemukan suatu
alasan mengapa ia seharusnya dapat merasa puas dengan apa yang dapat
diperoleh dengan sekejap tetapi tidak, sedangkan hambanya hanya
memperoleh sedikit harta tetapi memiliki rasa kepuasan yang besar.
Dengan penuh perhatian, sang asisten pribadi mendengarkan ucapan sang
Raja dan kemudian menarik kesimpulan. Ujarnya, “Yang Mulia, saya
percaya si hamba itu belum menjadi bagian dari kelompok 99.” “Kelompok
99? Apakah itu?” tanya sang Raja. Kemudian, sang asisten pribadi
menjawab, “Yang Mulia, untuk mengetahui apa itu Kelompok 99, Yang
Mulia harus melakukan hal ini… letakkan 99 koin emas dalam sebuah
kantung dan tinggalkan kantung tersebut di depan rumah si hamba,
setelah itu Yang Mulia akan mengerti apa itu Kelompok 99.”

Sore harinya, sang Raja mengatur agar si hamba memperoleh kantung yang
berisi 99 koin emas di depan rumahnya. Walaupun ada sedikit keraguan
mucul, dan sang Raja ingin memberikan 100 koin emas, namun ia menuruti
nasihat si asisten pribadi dan tetapi meletakkan 99 koin emas.

Esok harinya, ketika si hamba baru saja hendak melangkahkan kakinya
keluar rumah, mat anya melihat sebuah kantung. Bertanya-tanya dalam
hatinya, ia membawa kantung itu masuk ke dalam dan membukanya. Ketika
melihat begitu banyak koin emas di dalamnya, ia langsung berteriak
girang. Koin emas… begitu banyak! Hampir ia tidak percaya. Kemudian
ia memanggil istri dan anak-anaknya keluar memperlihatkan temuannya.
Si hamba meletakkan kantung tersebut di atas meja, mengeluarkan
seluruh isinya dan mulai menghitung. Hanya 99 koin emas, dan ia pun
merasa aneh. Dihitungnya kembali, terus menerus dan tetap saja, hanya
99 koin emas. Si hamba mulai bertanya-tanya, kemanakah koin yang satu
lagi? Tidak mungkin seseorang hanya meninggalkan 99 koin emas. Ia pun
mulai menggeledah seluruh rumahnya, mencari koin yang terakhir.
Setelah ia merasa letih dan putus asa, ia memutuskan untuk bekerja
lebih keras lagi untuk menggantikan 1 koin itu agar jumlahnya genap
100 koin emas.

Keesokan harinya, ia bangun dengan suasana hati yang benar-benar tidak
enak, berteriak-teriak kepada istri dan anak-anaknya, tidak menyadari
bahwa ia telah menghabiskan malam sebelumnya dengan bekerja keras agar
ia mampu membeli 1 koin emas. Si hamba bekerja seperti biasa, tetapi
tidak dengan suasana hati yang riang, bersiul-siul seperti biasanya.
Dan si hamba pun tidak menyadari bahwa sang Raja memperhatikan dirinya
ketika ia melakukan pekerjaan hariannya dengan bersungut-sungut.

Sang Raja bingung melihat sikap si hamba yang berubah begitu drastis,
lalu memanggil asisten pribadinya masuk ke dalam ruangan. Diceritakan
apa yang telah dilihatnya dan si asisten pribadinya tetap mendengarkan
dengan penuh perhatian. Sang Raja bertanya, bukankah seharusnya si
hamba itu lebih riang karena ia telah memiliki koin emas.

Jawab si asisten,”Ah. . tetapi, Yang Mulia, sekarang hamba itu secara
resmi telah masuk ke dalam Kelompok 99.” Lanjutnya, “Kelompok 99 itu
hanyalah sebuah nama yang diberikan kepada orang-orang yang telah
memiliki semuanya tetapi tidak pernah merasa puas, dan mereka terus
bekerja keras mencoba mencari 1 koin emas yang terakhir agar genap 100
koin emas. Kita harusnya merasa bersyukur dengan apa yang ada, dan
kita bisa hidup dengan sedikit yang kita miliki. Tetapi ketika kita
diberikan yang lebih baik dan lebih banyak, kita menghendaki lebih!
Tidak menjadi orang yang sama lagi, yang puas dengan apa yang ada,
tetapi kita terus menghendaki lebih dan lebih dan memiliki keinginan
seperti itu kita membayar harga yang tidak kita pun sadari. Kehilangan
waktu tidur, kebahagiaan, dan menyakiti orang-orang yang berada di
sekitar kita hanya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan kita
sendiri. Orang-orang seperti itulah yang tergabung dalam Kelompok 99!”

Mendengar hal itu, sang Raja memutuskan bahwa untuk selanjutnya, ia
akan mulai menghargai hal-hal yang kecil dalam hidup.

Sahabat, berusaha untuk memiliki lebih itu bagus, tetapi jangan
berusaha terlalu keras sehingga kita kehilangan orang-orang yang dekat
dengan kita, jangan pernah menukar kebahagiaan dengan kemewahan!

Gbu all.