CahAya Lilin Kecil October 9 at 4:44am Reply • Report
Seorang ayah, yang memiliki putra yang berusia kurang lebih 5 tahun,
memasukkan putranya tersebut ke sekolah musik untuk belajar piano. Ia
rindu melihat anaknya kelak menjadi seorang pianis yang terkenal.

Selang beberapa waktu kemudian, di kota tersebut datang seorang pianis
yang sangat terkenal. Karena ketenarannya, dalam waktu singkat tiket
konser telah terjual habis. Sang ayah membeli 2 buah tiket
pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya.

Pada hari pertunjukan, satu jam sebelum konser dimulai, kursi telah
terisi penuh, sang ayah duduk dan putranya tepat berada di sampingnya.
Seperti layaknya seorang anak kecil, anak ini pun tidak betah duduk
diam terlalu lama, tanpa sepengetahuan ayahnya, ia menyelinap pergi.

Ketika lampu gedung mulai diredupkan, sang ayah terkejut menyadari
bahwa putranya tidak ada di sampingnya. Ia lebih terkejut lagi ketika
melihat anaknya berada dekat panggung pertunjukan, dan sedang berjalan
menghampiri piano yang akan dimainkan pianis tersebut. Didorong oleh
rasa ingin tahu, tanpa takut anak tersebut duduk di depan piano dan
mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang sederhana, twinkle2 little
star.

Operator lampu sorot, yang terkejut mendengar adanya suara piano
mengira bahwa konser telah dimulai tanpa aba-aba terlebih dahulu, dan
ia langsung menyorotkan lampunya ke tengah panggung.

Seluruh penonton terkejut, melihat yang berada di panggung bukan sang
pianis, tapi hanyalah seorang anak kecil. Sang pianis pun terkejut,
dan bergegas naik ke atas panggung.

Melihat anak tersebut, sang pianis tidak menjadi marah, ia tersenyum
dan berkata, “Teruslah bermain”, dan sang anak yang mendapat ijin,
meneruskan permainannya.

Sang pianis lalu duduk di samping anak itu, dan mulai bermain
mengimbangi permainan anak itu, ia mengisi semua kelemahan permainan
anak itu, dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat
indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut.

Ketika mereka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan
meriah, karangan bunga dilemparkan ke tengah panggung. Sang anak jadi
GR (Gede Rasa), pikirnya, “Gila, baru belajar piano sebulan saja sudah
hebat!”

Ia lupa bahwa yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang
duduk di sebelahnya, mengisi semua kekurangannya dan menjadikan
permainannya sempurna.

Apa implikasinya dalam hidup kita?

Kadang kita bangga akan segala rencana hebat yang kita buat,
perbuatan-perbuatan besar yang telah berhasil kita lakukan. Tapi kita
lupa, bahwa semua itu terjadi karena Allah ada di samping kita. Kita
adalah anak kecil tadi, tanpa ada Allah di samping kita, semua yang
kita lakukan akan sia-sia.