Sinode Para Uskup

MEMBANGKITKAN GAIRAH BARU ATAS KITAB SUCI

Sinode para Uskup yang berlangsung selama tiga minggu diakhiri dengan Misa Agung dipimpin oleh Paus Benediktus XVI (26/10/08). Dalam kotbahnya, Paus antara lain berharap agar para Uskup Cina daratan yang dilarang hadir oleh pemerintah Komunis Cina tetap bertekun dalam kesulitan. Pada kesempatan yang sama Paus mengumumkan rencana lawatannya ke Afrika bulan Maret 2009.

Sinode para Uskup berlangsung sejak 5 – 26 Oktober 2008.  Ini adalah Sinode biasa Para uskup yang ke XII. Sinode Para uskup adalah lembaga yang didirikan oleh Paus Paulus VI pada 15 September 1965. Hal ini merupakan jawaban atas keinginan para bapak Konsili Vatikan II yang menghendaki mempertahankan semangat positif yang dialami selama Konsili. Sinode barasal dari dua kata Yunani yang berarti berkumpul bersama. Sinode merupakan pertemuan religius dimana para uskup dari seluruh dunia berkumpul bersama Bapa Suci. Wakil Indonesia dalam Sinode ini adalah Mgr. Ign. Suharyo Pr dan Mgr. A.B. Sinaga OFMCap.

Sinode  yang digelar dengan topik The Word of God in the Life and Mission of the Church (Sabda Allah dalam Kehidupan dan Misi Gereja) ini dihadiri 253 Uskup, Uskup Agung dan Kardinal dari seluruh penjuru dunia. Ada pula beberapa peserta yang bukan Uskup, seperti Mgr. Dr. Glen Lewandowski OSC. Ia merupakan salah satu perwakilan pimpinan tarekat religius. Di samping itu, ada juga sejumlah tokoh yang diundang sebagai pendengar. Beberapa tokoh ternama seperti Bruder Alois dari Taize dan Enzo Bianchi, pimpinan komunitas Bose hadir sebagai undangan khusus. Untuk pertama kalinya, Sinode ini dihadiri juga oleh perwakilan dari agama lain.

Sasaran sinode, seperti ditulis John Allen Jr, adalah membangkitkan kecintaan/  gairah baru atas Kitab Suci. Pada saat yang sama Sinode ingin mendorong umat Katolik untuk membaca KS dalam tradisi gereja yang hidup. Dengan demikian, diharapkan kita dapat berpegang pada iman dan akal sekaligus. (The National Catholic Reporter, 17 Oktober 2008).

Kesepakatan dan Ketegangan

Dalam Sinode ini ada banyak hal yang menjadi kesepakatan bersama. Beberapa di antaranya: Pertama, Sabda Tuhan dalam gereja Katolik  dimengerti lebih luas dari sekedar teks tertulis sebuah Kitab Suci. Sabda Tuhan pertama-tama mengacu pada sebuah pribadi Jesus Kristus.

Kedua, Kitab Suci harus dibaca dalam konteks gereja, tradisi, ajaran doktrin serta ibadat. Dengan kata lain, ada kaitan erat antara Injil dan liturgi, khususnya Misa.

Hal lain yang menjadi kesepakatan umum: Injil bukanlah sekedar sebuah literatur kuno. Karenanya Injil tak bisa ditafsirkan hanya dengan kacamata sejarah serta kritik literatur. Interpretasi Injil harus lebih mendalam, yaitu pada exegese theologis yang menghubungkan studi Kitab Suci dengan iman gereja serta perjuangan nyata manusia.

Dalam sinode juga muncul beberapa topik yang sempat menimbulkan ketegangan meski tidak sampai menjadi debat terbuka. Dua contoh topik yang menimbulkan ketegangan adalah topik Petugas Sabda Awam serta masalah Metode Kritis-historis sebagai cara untuk membaca serta mengerti Kitab Suci. Di beberapa tempat, dimana kehadiran seorang imam amat langka, maka umat melakukan Ibadat Sabda yang dipimpin seorang awam. Kenyataan ini memunculkan keprihatinan baik dari sisi teologis maupun praktis.  Apakah Ekaristi sebagai satu-satunya sumber dan puncak kehidupan Kristiani? Yang jelas, di beberapa daerah, umat tak akan pernah berkumpul bila harus menunggu perayaan Ekaristi. Ibadat Sabda adalah solusi dari situasi ini. Secara praktis, sejumlah Uskup khawatir bahwa mempromosikan pelayan sabda awam terlalu gencar, akan berakibat menurunnya minat kaum muda menjadi imam. 

Ketegangan yang lumayan tinggi terjadi antara kelompok yang menekankan eksegese kritis historis untuk mengerti Kitab Suci dengan tepat dan kubu yang lebih menekankan penafsiran rohani. Metode kritis-historis adalah suatu cara mengerti Kitab Suci dengan memanfaatkan hasil penyelidikan sejarah serta kritik literatur. Dengan cara ini Kitab Suci dapat dimengerti secara tepat baik dari sisi sejarah maupun sastra. Tidak semua orang sependapat dengan pendekatan ini. Thomas Rosica, sarjana Kitab Suci asal Kanada, memberi gambaran tentang hal ini. “Kami semua dilatih sebagai ahli bedah’, ujarnya. “Maksudnya, para ekseget (ahli Kitab Suci) belajar bagaimana memotong ayat-ayat dalam Kitab Suci secara persis dan mampu mengalisa artinya secara tepat. Yang sering dilupakan adalah, kami sedang membedah tubuh yang hidup, bukan sebuah mayat”, papar Rosica, penanggung jawab Press briefing Sinode berbahasa Inggris. 

Ketegangan dua kubu ini mengundang intervensi Paus Benediktus XVI, sesuatu yang amat jarang terjadi. Mgr. Dr.Glen Lewandowski OSC, salah satu peserta Sinode, menceriterakan tentang intervensi Paus tersebut. Menurutnya, Paus sambil mengutip dokumen Dei Verbum 12 menyatakan bahwa metode kritis historis adalah cocok untuk menafsirkan suatu teks dalam konteks asal mula sejarahnya. Sebab, bagaimanapun Kitab Suci memiliki dimensi sejarah dan manusiawi yang harus diketahui serta ditafsirkan. Dilain pihak, teks Kitab Suci memiliki arti yang lebih dalam dari sekedar unsur sejarah dan manusiawi. Arti terdalam serta spiritual inilah yang kiranya perlu digali. Dengan kata lain, mengerti Kitab Suci secara akademik dan spiritual haruslah saling melengkapi. Yang jelas, intervensi Paus berhasil meredakan ketegangan yang sempat terjadi.

Mengagumkan, Memperkaya

Dalam Sinode ini banyak orang mendapat kesempatan untuk berbicara. Dari 253 peserta Sinode, sekitar 220 memberi paparan, masing-masing selama 5 menit. Sesudah waktu lima menit, microphone otomatis akan berhenti. Sistem ini berlaku bagi semua orang dan berjalan efektif. Banyak peserta merasa kagum atas cara kerja panitia. Hebatnya, semua paparan yang disampaikan pada pagi hari, siang harinya sudah langsung tersedia, tercetak rapi bagi semua peserta. “Pendapat Max Weber bahwa Vatikan merupakan salah satu birokrasi modern yang paling efisien, rupanya masih tetap berlaku”, ujar seorang peserta penuh kekaguman. Selain rasa kagum, ada cukup banyak peserta yang menyimpan kekecewaan. Dokumen akhir dan resmi dikeluarkan Vatikan dalam bahasa Latin. Beberapa peserta, termasuk Glen Lewandowski, kecewa dan mengeluh, mengingat bahasa Latin tidak banyak dimengerti lagi.

Seorang Uskup dari Zambia, Mgr. George Cosmas Zumair Lungu saat ditanya kesannya mengikuti Sinode, mengaku amat tertarik dan senang. “Sangat menarik mengamati beragam pandangan para pemimpin gereja dari pelbagai penjuru dunia. Ada perbedaan cara pandang di antara para peserta, khususnya antara peserta dari negara maju seperti Eropa Barat dan peserta dari negara berkembang, seperti negara-negara di Afrika. Sinode ini memperkaya wawasan saya”, ujarnya dalam bahasa Inggris.

Mgr. Ign. Suharyo mempunyai kesan tersendiri tentang Sinode ini. Ia amat tertarik pada proses sinodalitas yang terjadi. “Orang dari latar belakang budaya serta bahasa yang berbeda dapat bersama-sama mencari jalan terbaik demi kepentingan gereja. Panitia dipilih oleh sidang dan usul-usul ditetapkan melalui voting. Sungguh suatu dinamika yang menarik!”, ungkap Uskup yang berpembawaan tenang ini. Lebih lanjut, mantan Dosen Kitab Suci ini berharap bahwa para peserta Sinode dapat membawa serta menerapkan hasil sinode sampai ke akar rumput di tempatnya masing-masing. “Ini PR yang tidak mudah!”, ujar Suharyo.

Sinode para uskup yang berlangsung selama tiga minggu diselingi beberapa acara ringan. Salah satunya, Paus menjamu peserta Sinode dengan pertunjukan Orkes Simphoni dari Vienna di bawah asuhan Maestro Christoph Eschenbach. Orkes lengkap yang menyajikan Symphony keenam gubahan Anton Bruchner ini diselenggarakan di Basilika Santo Paulus di luar tembok Roma (13/10/08).

Heri Kartono, OSC (dimuat di majalah HIDUP edisi 2 Nopember 2008).