Pencabutan Ekskomunikasi


HEBOH PENCABUTAN EKSKOMUNIKASI 4 USKUP

Dalam upaya rekonsiliasi, Paus mencabut hukuman ekskomunikasi empat uskup kelompok Mgr. Marcel Lefebre. Keputusan Paus ini mengundang kegemparan dan kemarahan kaum Yahudi. Ada apa gerangan?

Lima puluh tahun yang lalu, tepatnya hari Minggu, 25 Januari 1959, Paus Yohanes XXIII mengumumkan perlunya diadakan suatu konsili para uskup sedunia untuk membaharui gereja. “Sudah tiba saatnya untuk membuka jendela-jendela dan membiarkan angin segar masuk”, ujarnya saat itu. Konsili, yang kemudian dikenal sebagai Konsili Vatikan II, dibuka pada bulan Oktober 1962 dan baru berakhir pada 1965.

Konsili Vatikan II dan Ekskomunikasi

Konsili yang dihadiri hampir 3000 uskup ini menghasilkan beberapa perubahan yang menyolok, antara lain: dalam perayaan Misa, imam tidak lagi membelakangi umat, dan bahasa setempat dapat digunakan (semula hanya bahasa Latin). Selain itu Konsili membuka pintu bagi aktivitas sosial, kebebasan berekspresi serta menaruh penghargaan pada agama-agama lain.

Apa yang dihasilkan Konsili, disambut dengan suka-cita dimana-mana. Di Afrika, misa dirayakan dengan iringan tambur yang meriah; di Amerika dengan gitar. Para wanita tidak lagi diwajibkan menutup kepala dengan kain saat masuk gereja dan para suster mulai mengganti jubah dan kerudung abad pertengahan dengan model yang lebih praktis.

Nampaknya tidak semua pihak senang dengan perubahan yang dihasilkan Konsili Vatikan II. Mgr. Marcel Lefebre (1905-1991) dari Perancis adalah salah satu yang menolak perubahan yang dicanangkan Konsili. Sejak itu Lefebre, yang pernah menjadi Uskup Agung Dakar hingga 1962, dikenal sebagai pelopor pembelot yang menentang perubahan di dalam gereja. Pada tahun 1970, Lefebre mendirikan Societas Santo Pius X (SSPX). Kelompok ini konon memiliki pengikut hingga satu juta orang (Reuters 22/01/09). Aktor film Mel Gibson kerap disebut-sebut sebagai salah satu pengikut Katolik tradisionalis seperti ini.

Kelompok Lefebre memiliki Seminari tersendiri yang berpusat di Swiss, mentahbiskan imam bahkan para uskup. Pada tanggal 30 Juni 1988, Lefebre mentahbiskan empat orang uskup, yaitu uskup Bernard Fellay, Bernard Tissier de Mallerais, Richard Williamson dan Alfonso de Galarreta. Sesuai hukum kanonik yang berlaku, tahbisan tersebut dianggap tidak syah. Karena kuasa memilih seorang uskup ada di tangan Vatikan/Paus. Karenanya, ke-empat uskup ini dijatuhi hukuman ekskomunikasi atau dicabut haknya sebagai anggota Gereja Katolik (1 Juli 1988). Itu terjadi pada masa Paus Yohanes Paulus II.

Usaha Rekonsiliasi dan Kecaman Yahudi

Mgr. Marcel Lefebre meninggal tahun 1991. Peranannya digantikan oleh uskup Bernard Fellay. Pada dasarnya kelompok yang anti pembaharuan gereja ini tetap menyadari diri mereka sebagai Katolik dan mengakui peranan Paus, pengganti Petrus. Sebagaimana dikemukakan Paus Benediktus, para uskup SSPX beberapa kali menghubunginya dan mengungkapkan keresahan hati mereka. “Karena itulah saya mengambil tindakan ini (mencabut hukuman ekskomunikasi). Saya harap tindakan saya ini diikuti langkah-langkah nyata dari pihak mereka menuju persatuan sempurna  dengan Gereja, dengan menunjukkan kesetiaan serta pengakuan akan kuasa Paus dan Konsili Vatikan II”, ujar Paus dalam kesempatan Audiensi umum (28/01/09).

Pencabutan hukuman ekskomunikasi 4 uskup yang diumumkan pada 24 Januari 2009 ini, menggemparkan kalangan Yahudi. Fasalnya, salah satu di antara 4 uskup tersebut, yaitu Richard Williamson pernah mengemukakan pernyataan yang mengagetkan banyak pihak. Dalam wawancara dengan TV Swedia pada bulan Nopember, namun baru disiarkan 21 Januari yang lalu, uskup kelahiran Inggris ini menyangkal adanya pembantaian 6 juta orang Yahudi pada jaman Nazi. Menurutnya, hanya sekitar 200 hingga 300 ribu saja orang Yahudi yang mati dan itupun bukan di dalam kamar gas.

Tak pelak komentar Richard Williamson ini membangkitkan amarah orang Yahudi di seantero dunia. Paus yang mencabut hukuman ekskomunikasi Williamson, tak luput dari kecaman. Paus dituding tidak memiliki kepedulian serta kepekaan terhadap orang Yahudi.

Menteri Israel urusan agama, Yitzhak Cohen mengancam akan memutus hubungan dengan Vatikan (PressTv, 01/02/09). Sementara pimpinan tertinggi umat Yahudi di Israel melayangkan surat berisi kepedihan mendalam atas keputusan Paus. Ia juga sekaligus membatalkan pertemuan dengan pihak Vatikan yang sedianya akan diadakan bulan Maret yang akan datang. Di AS, Abraham Foxman, direktur nasional Anti Penistaan umat Yahudi, menyatakan kekecewaannya atas keputusan Paus Benediktus XVI. “Keputusan ini amat mengganggu hubungan antara umat Katolik dan Yahudi yang tumbuh subur di bawah Paus Yohanes Paulus II”, ujarnya sebagaimana dikutip pelbagai media massa. Sementara di Jerman, Presiden Dewan Yahudi, Charlotte Knobloch memutuskan hubungan dengan Vatikan, sekurangnya untuk sementara waktu (Herald Tribune, 29/01/09)

Kekecewaan serta kecaman terus berdatangan, termasuk dari Elie Wiesel, mantan korban kekejaman Nazi yang berhasil meloloskan diri. Elie Wiesel, pengarang serta pemenang hadiah nobel perdamaian (1986), dalam wawancara dengan Reuters berkata: “Situasi ini sungguh tak terduga sebab kami mempunyai harapan tinggi atas relasi antara umat Yahudi dan Katolik yang telah dibangun dengan amat baik oleh dua Paus sebelumnya!” (Reuters 28/01/09).

Bantahan Vatikan

Juru bicara Vatikan, Pastor Federico Lombardi, membela keputusan Paus mencabut hukuman ekskomunikasi empat uskup tersebut. Menurutnya, keputusan tersebut tidak ada kaitannya dengan opini pribadi salah satu uskup terkait (BBC 24/01/09). Kardinal Angelo Bagnasco, presiden konferensi para Uskup Italia juga mendukung keputusan Paus. Namun, ia menyesalkan komentar yang tak adil yang diungkapkan uskup Williamson tentang orang Yahudi.

Harian resmi Vatikan, L’Osservatore Romano (27/01/09), menyebut komentar uskup Williamson tentang orang Yahudi, sebagai sesuatu yang tak dapat diterima, sangat serius dan amat disesalkan. Harian yang sama menegaskan kembali posisi serta ajaran resmi gereja yang menentang pandangan anti-semit (yang memusuhi serta bersikap buruk terhadap bangsa Yahudi) sebagaimana dicanangkan dalam dokumen Nostra Aetate.

Senada dengan itu, Kardinal Walter Kasper, yang bertanggung jawab atas hubungan dengan umat Yahudi, menyatakan bahwa penyangkalan adanya Holocaust (penyiksaan kaum Yahudi pada jaman Nazi, termasuk dalam kamar gas) adalah sesuatu yang tak bisa diterima dan berlawanan dengan pendapat Gereja Katolik. Ia menyebut komentar uskup Williamson sebagai bodoh (La Repubblica, 26/01/09).

Tak ketinggalan, Radio Vatikan dalam siarannya, memaparkan bukti-bukti kepedulian Paus Benediktus XVI terhadap nasib bangsa Yahudi. Radio ini menyebut beberapa peristiwa terkait, seperti kunjungan Paus Benediktus XVI ke Sinagoga di Koln, Jerman (2005), kunjungan ke Auschwitz (2006) serta beberapa komentar Paus yang menunjukkan kepeduliannya terhadap bangsa Yahudi. “Hendaknya kemanusiaan jaman ini tidak melupakan (kekejaman) Auschwitz dan pabrik-pabrik kematian lainnya yang dilakukan rezim Nazi guna menghilangkan Tuhan dan mengambil alih tempatnya”, ujar Paus Benediktus XVI sebagaimana disiarkan kembali Radio Vatikan.

Menanggapi kekecewaan orang Yahudi, Paus Benediktus XVI (28/01/09), secara langsung mengungkapkan solidaritas sepenuhnya dengan bangsa Yahudi yang ia sebut sebagai saudara tua. Dengan tegas Paus menentang segala pengingkaran atas kekejaman serta pembunuhan yang dilakukan rezim Nazi. Komentar Paus ini sekurangnya disambut positif oleh Oded Weiner, pemimpin umat Yahudi di Israel.

Sementara itu, dalam sebuah surat terbuka, uskup Williamson yang kini tinggal di Argentina, menyatakan penyesalannya. Kepada Kardinal Dario Castrillon Hoyos, mediator Vatikan, Williamson menulis: “Di tengah badai berita yang disebabkan oleh komentar saya yang kurang hati-hati dalam TV Swedia, dengan tulus saya mohon anda menerima penyesalan saya, karena telah membuat diri anda dan Bapa Suci menanggung persoalan serta kesusahan amat besar yang tak perlu”, tulis Williamson. Dalam surat yang sama, Williamson juga mengucapkan terima kasih kepada Paus atas dicabutnya hukuman ekskomunikasi. (BBC News 31/01/09).

Catatan: Misa Tridentine yang digunakan sejak thn. 1570 s/d 1962 masih digunakan secara resmi di beberapa tempat. Foto di atas diambil pada hari Minggu 01/02/09 di Gereja SS. Trinita dei Pellegrini, Roma. Misa masih membelakangi umat, menggunakan bahasa Latin, lagu Gregoriana, komuni dengan lidah dan sebagian wanita masih mengenakan penutup kepala.

Heri Kartono OSC(dimuat di majalah HIDUP edisi 22 Februari 2009).