Ksatria Templar.

KSATRIA TEMPLAR, ANTARA LEGENDA DAN REALITA. 

Ksatria Templar menjadi populer lewat buku Da Vinci Code. Kelompok ini didirikan dengan penuh kesahajaan, berkembang amat pesat namun berakhir secara tragis. Ada banyak legenda di seputar kelompok ini. Siapakah mereka dan sejauh mana kaitannya dengan Gereja Katolik?

Ksatria Berjiwa Rahib.

Ksatria Templar atau Knights Templar didirikan oleh Hughes de Payens, veteran Perang Salib Pertama bersama 8 orang sahabatnya pada tahun 1118. Di hadapan Patriach Yerusalem, mereka mengucapkan sumpah setia untuk membela agama Kristiani. Raja Baldwin II dari Yerusalem menerima mereka dan memberi mereka sebuah markas di bukit Kenisah (Temple Mount). Konon di atas bukit tersebut pernah berdiri Kenisah Salomon. Nama Ksatria Templar yang lengkapnya Poor Knights of Christ and the Temple of Solomon, diambil dari lokasi markas mereka ini.

Kelompok baru ini mengambil aturan Santo Bernardus dari Clairvaux, biarawan Ordo Cistercian sebagai cara hidup mereka. Karenanya, Para Ksatria Templar mengucapkan tiga kaul seperti layaknya biarawan biasa. (Sebagai biarawan kelompok  ini sering juga disebut Ordo Templar). Selain tiga kaul, merekapun mengucapkan sumpah lain, yaitu janji setia sebagai Ksatria Perang Salib. Seorang Ksatria Templar mengenakan jubah putih meniru jubah biarawan Cistercian, hanya mereka menambahkan sebuah salib merah besar pada jubah mereka. Pemimpin tertinggi Ksatria Templar disebut Grand Master atau Guru Agung. Jabatan ini disandang seumur hidup. Grand Master pertama adalah Hughes de Payens sendiri, sang pendiri yang berasal dari Perancis.

Tugas utama Ksatria Templar adalah menjaga keamanan para peziarah di tanah suci, khususnya di Yerusalem. Pada waktu itu banyak orang Kristiani dari Eropa datang ke Yerusalem untuk berziarah. Banyak orang mempercayakan harta bendanya kepada kelompok ini sebelum mereka melakukan peziarahan. Dalam perkembangannya, kelompok ini dikenal sebagai tempat penitipan harta benda yang aman dan bisa dipercaya (semacam bank penyimpanan). Karenanya tidak mengherankan bahwa dalam perjalanan waktu, Ksatria Templar banyak memiliki peninggalan harta benda dalam jumlah yang besar.

Sebagai Ksatria, anggota kelompok ini mendapat latihan serta disiplin militer yang tinggi. Kehebatan, keberanian serta daya juang mereka dalam peperangan tak pernah diragukan. Banyak tulisan yang menggambarkan kehebatan mereka. Mereka, antara lain, dilukiskan sebagai singa garang di medan perang namun domba jinak pada saat damai; satria buas dalam peperangan namun rahib yang saleh di dalam gereja. Dalam setiap peperangan, kelompok inilah yang tanpa ragu akan maju paling depan dan mundur paling akhir.

Dalam waktu singkat, kelompok ini dikenal dimana-mana dan berkembang amat pesat. Kehidupan mereka sebagai biarawan militan sekaligus sebagai pejuang yang gagah berani menjadi daya tarik yang luar biasa. Kelompok Ksatria Templar mulai membuka cabang-cabangnya di hampir semua negara di Eropa.

Kelompok ini juga mendapat kepercayaan yang amat besar dari penguasa gereja dalam berbagai bidang. Paus pada waktu itu memberi mereka banyak kemudahan serta keistimewaan. Hal ini sempat menimbulkan ketidak senangan di kalangan para biarawan biasa.

Akhir yang Tragis.

Sesudah berkembang sangat baik selama hampir 200 tahun, nasib Ksatria Templar berubah drastis pada awal tahun 1300-an. Pada waktu itu, Raja Perancis, Philip IV mengalami kesulitan keuangan yang luar biasa akibat peperangan melawan Inggris. Maka disusunlah suatu rencana busuk terhadap Ksatria Templar. Ada dua alasan, pertama, ia ingin menguasai kekayaan kelompok Templar, terutama yang tersebar di seluruh Perancis. Alasan kedua, ia tidak ingin membayar hutang-hutangnya yang amat besar kepada kelompok ini. Pada tanggal 13 Oktober 1307, atas perintah Raja Philip IV, semua Ksatria Templar di seluruh Perancis ditangkap secara serentak dengan pelbagai tuduhan palsu. Para Ksatria Templar dipaksa untuk mengakui tuduhan-tuduhan keji dan tidak sedikit di antara mereka disiksa dan dibunuh. Tiga pemimpin Templar, termasuk Grand Master mereka, Jacques de Molay dibakar hidup-hidup atas tuduhan ajaran sesat. Raja Philip IV dengan leluasa merampas segala harta kekayaan Templar yang ada di Perancis.

Di luar Perancis, Ksatria Templar masih bertahan kendati secara sembunyi-sembunyi.

Kenyataan ini memunculkan banyak legenda di sekitar kehidupan Templar. Di antara legenda tersebut antara lain soal kerahasiaan organisasi mereka serta soal misteri harta benda yang lama mereka simpan dan sembunyikan.

Apa yang ditulis Dan Brown dalam bukunya Da Vinci Code tentang Ksatria Templar dan misteri Holy Grail (Cawan Suci) adalah salah satu legenda yang sulit dibuktikan kebenarannya.

Puncak kesialan nasib Ksatria Templar terjadi ketika Paus Clement V dibawah tekanan kuat Raja Philip, membubarkan kelompok ini pada tahun 1312.

Ksatria Templar di Masa Sekarang.

Raja Philip IV menghancurkan hampir seluruh kelompok Templar di Perancis. Beberapa pemimpin negara Eropa lain mengikuti jejak Philip IV.

Penganiayaan Raja Philip IV serta pembubaran yang dilakukan Paus Clement V, memang membuat kelompok Templar tercerai-berai, namun tidak mati. Ksatria Templar masih terus hidup sampai saat ini.

Dalam perkembangannya, Gereja Katolik Roma menyatakan bahwa penganiayaan terhadap Kelompok Templar di masa Raja Philip IV adalah tidak adil. Tidak ada yang secara inheren salah pada kelompok tersebut ataupun pada peraturan mereka. Diakui juga bahwa Paus pada saat memutuskan pembubaran Templar, berada dalam tekanan berat Raja Philip IV.

Saat ini Ksatria Templar masih ada di beberapa negara. Di Italia saja sekurang-kurangnya ada dua kelompok Templar. Pada masa kini mereka tetap mengenakan  Jubah Putih dengan tanda salib besar warna merah sebagai pakaian resmi mereka. Selain itu mereka juga dilengkapi dengan pedang panjang, sebagaimana para Ksatria Templar di masa lalu. Para Templar ini berkumpul secara teratur.

Pada pertengahan bulan Juni 2006, Kelompok Templar pimpinan Fra. Enzo Mattani, mengadakan upacara penerimaan anggota baru di Gereja San Giorgio, Roma. Upacara diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin Pastor Andre Notelaers OSC dan Don Davide Pr.

Menurut Enzo Mattani, para Ksatria Templar yang dipimpinnya tetap memelihara dan menjunjung tinggi semangat dan spiritualitas Ksatria Templar asli. “Kelompok kami mengucapkan janji untuk setia kepada Gereja dan untuk membela ajaran Gereja!”, ujar Enzo yang sehari-harinya bekerja sebagai seorang Jaksa ini. Salah satu aktivitas konkrit para Templar adalah mengumpulkan dana dan membantu tempat-tempat yang membutuhkan. Mereka, misalnya, pernah mengirim obat-obatan untuk membantu korban perang di Irak.

Ksatria Templar berawal dari cita-cita mulia Hughes de Payens, pendiri mereka. Hughes telah lama mati dan Ksatria Templar sempat dikejar-kejar untuk dihabisi. Namun, cita-cita mulia yang pernah membakar semangat Hughes nampaknya masih belum padam. Cita-cita tersebut masih tetap menggetarkan hati banyak orang, entah sampai kapan!

Heri Kartono OSC.

(Dimuat di majalah HIDUP: 23 Juli 2006).