Orangtua sekarang lebih banyak mendorong anak-anaknya untuk mengejar sukses duniawi. Tak heran kalau keluarga-keluarga kurang menjadi lahan yang subur bagi benih panggilan menjadi imam, biarawan atau biarawati. Itulah yang dikatakan Rm. J. Sudarminta, SJ, mantan rektor STF Driyarkara, Jakarta. “Hidup beriman keluarga-keluarga Katolik juga mengalami kemerosotan,” tandas Rm.Sudar.

Arus sekularisme yang berbarengan dengan materialisme, hedonisme, dan konsumtivisme sekarang kian deras menerpa keluarga-keluarga. Banyak orangtua lebih menanamkan cita-cita hidup pada diri anak-anaknya untuk menjadi orang kaya raya, berkuasa, populer di mana-mana, dan hidup enak tanpa harus kerja keras.

Padahal, keluargalah tempat persemaian pertama bagi bibit panggilan menjadi imam dan biarawan-biarawati. Kalau hidup beriman keluarga-keluarga Katolik semakin kering, benih panggilan imam dan biarawan-biarawati juga akan semakin sulit tumbuh.

Benih panggilan itu memerlukan iklim hidup keluarga yang mampu menghargai hal-hal yang bersifat rohani. Keluarga yang seperti ini dijiwai oleh semangat cinta sejati yang tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri saja (egois dan egosentris), tetapi juga punya kepedulian terhadap orang lain, khususnya mereka yang memerlukan pertolongan.

Hidup beriman keluarga-keluarga Katolik seharusnya cukup subur, sehingga kesadaran bahwa tujuan utama hidup manusia di dunia ini adalah untuk memuji, menghormati, dan mengabdi kepada Allah lewat pelayanan kepada sesama akan terus bergema di hati setiap anggota keluarga. Kalau ini yang terjadi, benih panggilan menjadi imam dan biarawan-biarawati juga akan bisa tumbuh subur.

Menurunnya minat kaum muda menjadi imam

Rm. J. Sudarminta adalah Guru Besar ilmu filsafat di STF Driyarkara, Jakarta. Selama 30 tahun masa hidupnya sebagai imam (ditahbiskan 29 Desember 1979), beliau pernah menjadi pastor rekan di paroki St. Theresia, Wonosari, Gunung Kidul selama kurang dari 2 tahun. Setelah itu, beliau menjalani 6 tahun studi khusus di New York, Amerika Serikat, termasuk 7 bulan Tersiat/mendalami spiritualitas SJ di Denver.

Sesudahnya, selama 22 tahun terakhir, beliau terlibat dalam karya pembinaan para calon imam, termasuk 4 tahun menjadi Prefek Spiritual (pamong bidang kerohanian) sekaligus dosen filsafat di Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan, Jogjakarta; menjadi Rektor Kolese Hermanum (rumah pembinaan para frater & bruder muda SJ) di Jakarta (1992-1998); menjadi Sekretaris Eksekutif Komisi Seminari KWI (3 tahun); dan menjadi anggota Seksi Seminari Tinggi, Komisi Seminari KWI (3 tahun). Kemudian antara 1998 – 2008 beliau menjadi Delegatus Formationis (koordinator pembinaan anggota) Provinsi Indonesia Serikat Jesus.

Berikut wawancara dengan Romo, yang akrab dipanggil Rm. Sudar ini, seputar minat kaum muda Katolik untuk menjadi imam, tantangan yang mereka hadapi, dan dukungan yang selayaknya bisa diberikan oleh umat bagi para calon imam.

Bagaimana Romo melihat minat kaum muda Katolik untuk menjadi imam dewasa ini?
Minat kaum muda Katolik untuk menjadi imam dewasa ini relatif menurun dibandingkan dengan masa yang lalu. Hal ini misalnya tampak dari gejala menurunnya jumlah siswa yang masuk di beberapa Seminari Menengah, seperti Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, Seminari Menengah Wacana Bhakti, Jakarta, dan Seminari Menengah Garum, Blitar. Kemudian untuk calon imam yang tidak lewat Seminari Menengah atau lewat kegiatan promosi panggilan langsung, kendati beberapa tarekat imam atau pun keuskupan cukup aktif melakukan promosi panggilan, jumlah yang masuk ke Tahun Rohani (untuk menjadi calon imam diosesan/praja) atau pun Novisiat (untuk menjadi calon imam tarekat/ordo/kongregasi) jumlahnya relatif tetap sedikit.

Dari mereka yang belajar di seminari, biasanya berapa persen di dalam satu angkatan yang berhasil menjadi imam?

Kalau diambil dari data Seminari Menengah, perbandingan antara jumlah calon yang masuk di Kursus Persiapan Pertama/KPP (= lulusan SMP yang masuk Seminari Menengah) dan yang kemudian berhasil ditahbiskan menjadi imam, persentasenya paling banter hanya 30-40%. Sedangkan perbandingan antara jumlah calon yang masuk di Kursus Persiapan Atas (= lulusan SMA yang masuk Seminari Menengah) persentasenya relatif sedikit lebih tinggi, karena bisa mencapai 50-60%; tetapi jumlahnya biasanya juga lebih sedikit.

Kalau data diambil dari jumlah calon yang masuk Tahun Rohani (untuk imam diosesan) dan masuk Novisiat (untuk imam ordo/kongregasi), persentasenya antara 50-60%. Dari data Novisiat S.J. Indonesia misalnya, dari rata-rata masuk per tahun 10 orang, yang akhirnya ditahbiskan menjadi imam sekitar 5-7 orang. Tetapi itu angka rata-rata saja, sebab ada juga angkatan yang sedikit sekali yang akhirnya ditahbiskan.

Apa tantangan terbesar yang dihadapi kaum muda Katolik untuk menanggapi panggilan mereka sebagai imam?
Menurut pendapat saya, tantangan terbesar yang dihadapi kaum muda Katolik untuk menanggapi panggilan mereka sebagai imam adalah tuntutan hidup selibat demi Kerajaan Allah, dan harapan umat bahwa imam dapat menjadi teladan kesucian. Di tengah kuatnya pengaruh budaya pan-seksualisme dan berbagai tawaran mereguk kenikmatan hidup di dunia, tuntutan hidup selibat demi Kerajaan Allah yang mengandaikan pengorbanan dan penyangkalan diri, terasa sebagai sesuatu yang langsung bertentangan dengan arus umum dalam masyarakat. Hidup selibat dianggap bertentangan dengan kodrat manusia untuk hidup berkeluarga.

Harapan umat agar imamnya dapat menjadi teladan kesucian juga terasa amat menantang bagi kaum muda Katolik untuk menanggapi panggilan mereka sebagai imam, karena mereka amat sadar akan keterbatasan dan kedosaannya. Tidak ada manusia yang sempurna. Imam yang jatuh ke dalam dosa sering lebih mudah dicela daripada kalau yang jatuh ke dalam dosa adalah awam. Apalagi sejarah juga menunjukkan adanya skandal yang melibatkan imam sebagai pelakunya. Kalau jumlah kegagalan imam dalam mewujudkan cita-citanya itu cukup besar, banyak orang muda juga akan merasa gamang untuk masuk dan bergabung dengan kelompok para imam. Akan sanggupkah saya untuk bertahan dan akan sanggupkah saya memenuhi harapan umat terhadap imamnya yang sering begitu tinggi?

Bagaimana seharusnya kaum muda yang merasa terpanggil bisa berteguh dalam menanggapi panggilannya?
Pertama ia harus memiliki keyakinan iman, kalau Tuhan sungguh memanggil, pasti Tuhan juga akan memberi jalan dan rahmat untuk dapat menghayati cara hidup yang telah dipilihnya. Kedua, ia perlu memiliki keyakinan iman bahwa cara hidup sebagai imam adalah cara hidup yang sungguh berarti, baik untuk dirinya maupun bagi orang lain. Asal dihayati dengan penuh cinta pada tugas dan panggilannya, seperti halnya hidup berkeluarga, hidup sebagai imam juga dapat memberi kepuasan batin dan kebahagiaan yang sungguh-sungguh. Ketiga, kaum muda yang merasa terpanggil perlu bertekun dalam doa, setia melakukan bimbingan rohani, dan membina hidup rohaninya sehingga relasi pribadinya dengan Kristus yang mau diikutinya seumur hidup dapat semakin mendalam. Kedalaman relasi pribadinya dengan Kristus dapat menumbuhkan rahmat persahabatan khusus dengan-Nya yang memungkinkan ia mampu mencintai orang lain dalam Kristus. Kehadiran Tuhan semakin dapat ia rasakan dan memenuhi hatinya dalam segala hal yang ia alami. Keempat, untuk berteguh dalam menanggapi panggilannya, seorang calon imam juga perlu setia menjalani pembinaan, baik pembinaan manusiawi, rohani, intelektual, maupun pastoral. Kelima, untuk dapat berteguh dalam panggilannya calon imam juga harus berusaha membangun hidup bersama dengan rekan-rekan calon imam lain dalam semangat persaudaraan. Calon imam yang lebih suka menyendiri, sulit hidup dan bekerja sama dengan pimpinan maupun rekan-rekan calon imam lain biasanya sulit bertahan. Keenam, untuk bisa berteguh dalam menanggapi panggilannya, calon imam juga memerlukan dukungan dari keluarga, sahabat, dan teman-teman dekatnya.

Berapa rasio antara jumlah imam dan umat saat ini?
Di wilayah Keuskupan Agung Jakarta saat ini rasio perbandingan antara jumpah imam dan umat yang dilayani adalah 1: 300; di beberapa paroki bisa lebih banyak dari itu.

Bagaimana peran keluarga bagi ‘lahirnya’ gembala-gembala umat yang baru? Apakah keluarga-keluarga sekarang masih menjadi ladang yang subur?
Keluarga adalah tempat penyemaian pertama bagi bibit panggilan menjadi imam dan biarawan-biarawati. Kalau hidup beriman dalam keluarga-keluarga Katolik cukup subur, sehingga kesadaran bahwa tujuan utama hidup manusia di dunia adalah untuk memuji, menghormati dan mengabdi kepada Allah lewat pelayanan kepada sesama manusia masih terus bergema dalam hati setiap anggota keluarga, maka benih panggilan menjadi imam dan biarawan-biarawati juga akan dapat tumbuh subur. Atau sekurang-kurangnya kalau keluarga menjadi saksi hidup bagi penghayatan cinta yang sejati yang menemukan kebahagiaan dalam membahagiakan orang lain, maka keluarga itu dapat menjadi tempat persemaian pertama bagi bibit panggilan menjadi imam dan biarawan-biarawati.

Akan tetapi kalau hidup beriman dalam keluarga-keluarga Katolik semakin kering karena arus sekularisme berbarengan dengan materialisme, hedonisme dan konsumtivisme semakin deras, benih panggilan imam dan biarawan-biarawati juga akan semakin sulit tumbuh. Kalau cita-cita hidup yang ditanamkan orangtua dalam diri anak-anaknya adalah pertama-tama bagaimana menjadi orang yang kaya-raya, berkuasa, populer di mana-mana, hidup enak tanpa harus kerja keras, menjadi orang yang sukses di dunia ini, maka benih panggilan imam dan biarawan-biarawati akan sulit tumbuh dalam keluarga.

Benih panggilan itu memerlukan iklim hidup berkeluarga yang mampu menghargai hal-hal yang bersifat rohani, keluarga yang dijiwai oleh semangat cinta yang sejati yang tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri saja (egois dan egosentris), tetapi juga punya kepedulian kepada orang lain, khususnya mereka yang memerlukan pertolongan.

Menurut pendapat saya keluarga-keluarga sekarang sudah kurang menjadi ladang subur bagi benih panggilan menjadi imam dan biarawan-biarawati karena hidup beriman dalam keluarga-keluarga Katolik juga mengalamai kemerosotan. Arus sekularisme yang lebih mengutamakan hal-hal duniawi dan materialisme yang cenderung lebih mengutamakan hal-hal yang bersifat materiil daripada yang rohani menyebabkan cita-cita menjadi imam tidak lagi menarik untuk kaum muda. Orangtua juga lebih banyak mendorong anak-anaknya untuk mengejar sukses duniawi.

Apa yang bisa dilakukan umat untuk mendukung para gembalanya di dalam pelayanan mereka?
Pertama mendukung para gembalanya dengan mendoakan mereka dan menunjukkan bahwa pelayanan mereka memang diperlukan oleh umat. Kedua, umat yang mampu juga perlu mendukung keperluan finansial yang terkait dengan tugas pelayanan mereka, misalnya dengan mendukung terlaksananya proyek-proyek penting dalam pembangunan dan pengembangan jemaat. Ketiga, umat perlu menjadi teman, syukur sahabat, dalam menghadapi tantangan dan kesulitan yang terkait dengan penghayatan panggilan imamat para gembalanya. Hal itu misalnya dilakukan dengan memberi dukungan untuk kelancaran karya pelayanannya, memahami keterbatasan dan kelemahannya sebagai manusia, dan dengan memberi saran, nasihat, peringatan bila perilakunya sudah membahayakan panggilan imamatnya. Keempat, para gadis dan ibu-ibu yang secara manusiawi tertarik kepada imam gembalanya atau sebaliknya, tidak membuat imam itu jatuh dan bahkan menyeret keluar dari hidup imamatnya.

sumber http://www.catholicdailyindonesia.com/tanya-jawab-dengan-rm-sudar-sj/