Melihat perilaku para pemimpin dan wakil rakyat yang membuat banyak orang mengelus dada mungkin membuat umat Katolik khususnya kaum mudanya jadi enggan terjun di kancah perpolitikan tanah air. Padahal sebetulnya hal itu tak perlu terjadi. “Kita tak perlu ragu untuk berperan serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tak perlu merasa gamang” kata Dr. Cosmas Batubara -yang pernah 10 tahun menjadi anggota DPR dan 15 tahun menjadi menteri selama Masa Orde Baru- dalam acara bincang-bincang tentang Perpolitikan Katolik di Indonesia yang digelar oleh Kerawam di Gereja St Theresia Jakarta, Jumat, 19 Maret 2010 lalu.

Keikutsertaan orang Katolik dalam kancah politik di tanah air bisa dilihat sejak sebelum masa kemerdekaan. Tokoh yang banyak berperan pada masa itu adalah Romo Van Lith yang memberikan dorongan dan dukungan agar kaum muda ikut berperan serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga banyak kaum muda yang terinspirasi. Sebut misalnya, Kasimo; yang terkenal dengan semboyannya: Salus populi suprema lex (kesejahteraan rakyat adalah hukum tertinggi). Kemudian bisa dipelajari pula sikap almarhum Mgr Albertus Soegijapranata SJ, yang selalu menegaskan sikap golongan Katolik dalam keterlibatan di bidang kehidupan politik: In principiis, unitas; in dubiis, libertas; in omnibus, caritas (dalam hal-hal prinsip adalah satu; dalam hal-hal yang masih terbuka, bebas; dalam segala hal, kasih). Ketika itu ada satu motto yang sangat terkenal yaitu 100% Katolik, dan 100% Indonesia. Masih ada pula nama-nama lain seperti almarhum Frans Seda, yang tema perjuangannya adalah kesetiaan kepada tanah air, Pancasila dan Bunda Gereja. Lalu JB Sumarlin, Benny Moerdani, Sudradjat Djiwandono dan kini ada pula nama Mari Elka Pangestu, dll. “Kita ingin orang Katolik bisa lebih ikut berperan dalam pengambilan keputusan bagi kepentingan bangsa dan negara” kata Cosmas.

Untuk itu Cosmas berharap agar generasi muda Katolik terdorong untuk ikut terjun ke bidang politik dengan menjadi birokrat, anggota Polri/TNI, pengusaha, partisan politik, dll dan memberikan kontribusinya sesuai dengan bidangnya masing-masing. Kader politik yang baik, menurut Cosmas, adalah kader yang punya pribadi, berkarakter, sopan dan bukan yang suka menjilat. Mereka selayaknya juga tidak berbicara kasar tetapi menyampaikan pandangannya dengan baik dan tertata. “Omongan boleh sampai tetapi fisik tidak boleh sampai” katanya. Tata cara seperti ini harus sudah dikuasai lebih dulu oleh kader sebelum terjun ke politik. Matang dan terlatih dalam public speaking juga sangat penting sehingga orang dapat mengemukakan pendapat secara jelas dan sistematik, tidak emosional dalam perdebatan dan adu argumentasi dan bisa memimpin. (01)

sumber http://www.catholicdailyindonesia.com