Seorang pemuda berdiri di tangga gereja, mencoba mencari arti dirinya sebagai pelayan. Di sisi lain tangga itu, seorang nenek, dengan bertopang pada payung yang dia bawa, kepayahan menaiki tangga gereja.

Menghampiri nenek itu, si pemuda kemudian berkata, “Nek, mari saya bantu.” Keheranan tampak pada raut muka sang nenek, namun ia mengulurkan tangannya juga untuk dibantu.

Lewat tangga terakhir, sang nenek menggenggam tangan si pemuda lebih keras. Ia bertanya, “Kamu siapa?” Kaget dengan pertanyaan yang tak disangka, pemuda itu berkata, “Saya yang bantu-bantu disini, Nek.” Tersenyum, nenek itu berkata, “Nanti Tuhan yang bisa balas yah.” Si nenek pun berlalu ke dalam gereja.

Terpaku, hati kecil si pemuda berkata, “Inilah yang membuat pelayananku berarti.” …dan setetes air mata pun jatuh mengakhiri pertemuan itu..

“Kami tidak layak, namun Engkau memanggil kami menjadi pelayan-pelayan-Mu.”

tulisan romo Iko (kepala Seminari Menengah Stella Maris, Bogor) – 02/05/10

sumber http://www.catholicdailyindonesia.com