[Inspirasi Kunjungan Uskup ke Paroki]

Ada banyak kesan yang muncul dalam diri (para wakil) umat ketika berdialog dengan Bapak Uskup saat kunjungan beliau ke paroki. Umumnya mereka senang dikunjungi pimpinan Gereja Keuskupan mereka. Namun, tak sedikit pula yang kaget, karena dalam kunjungan ke paroki-paroki di tahun 2009 ini, beliau sangat cermat dan jeli membaca laporan-laporan paroki, hingga menemukan kelemahan-kelemahan data statistik yang dilaporkan. Lho?

“Kami terkejut sekaligus kagum … kok Bapak Uskup yang sudah setua itu masih bisa tekun membaca halaman per halaman, dan menemukan banyak data statistik paroki kami yang ternyata salah!” ujar seorang pastor paroki. 

Itulah sekelumit kesan yang diperbicangkan dalam pertemuan Uskup bersama para pastor staf Keuskupan dan pastor-pastor paroki se-Dekenat Tangerang di paroki St. Maria, Tangerang, Senin (20/4/2009). Banyak inspirasi yang ditemukan dalam rangkaian kunjungan Uskup di paroki-paroki didialogkan dalam pertemuan itu.

Bukan Perkara Mudah
Menyelenggarakan karya pastoral berbasis data ternyata bukan perkata mudah. Banyak kelemahan data statistik paroki yang disadari bersama saat dialog dengan Uskup dalam kunjungan beliau di paroki-paroki Dekenat Tangerang (28 Februari – 19 April 2009). 

Misalnya, data statistik di suatu paroki menyebutkan adanya 600 jiwa umat yang belum menerima Sakramen Baptis. Padahal seharusnya 600 warga tersebut tidak terhitung sebagai umat Katolik. Kesalahan ini disebabkan pendataan statistik berdasarkan jumlah anggota keluarga dalam Kartu Keluarga (KK), tanpa mengidentifikasi status sudah atau belum menerima Sakramen Baptis-nya. Akibatnya, warga yang belum menerima Sakramen Baptis pun terhitung sebagai umat Katolik di paroki tersebut.

Menanggapi kesalahan semacam ini, Bapak Uskup minta agar data umat tidak dihitung dalam satuan “KK” lagi, melainkan “jiwa” atau “orang”.

Ada Apa di Balik Data Statistik?
Uskup mengapresiasi kemajuan yang ditunjukkan oleh paroki-paroki dalam berpastoral berbasis data ini. Namun, beliau tak lupa mendorong agar umat dan pastor paroki-paroki semakin jeli mencermati situasi di balik data-data statistik tersebut.

Misalnya, data yang menunjukkan banyaknya baptisan dewasa memang menggembirakan. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, data tersebut mengungkap dari latar belakang orang tua beragama apakah para babtisan dewasa tersebut. “Tapi yang mengejutkan saya, dan membuat (saya) prihatin, bahwa dari jumlah (baptisan dewasa) yang cukup banyak, kedua orang tuanya Katolik!” ungkap Bapak Uskup. 

Seperti diketahui, adalah kewajiban setiap keluarga yang didirikan atas dasar Sakramen Perkawinan Katolik untuk mendidik anak-anaknya seturut ajaran Gereja Katolik, tak terkecuali menerima Sakramen Baptis. Lazimnya, keluarga-keluarga Katolik membaptiskan anak-anak mereka sejak kecil.

Maka Bapak Uskup menekankan pentingnya mencermati situasi tersebut. “Saya masih bisa mengerti jika itu terjadi di keluarga dalam perkawinan campur … mungkin ada tarik-menarik, tetapi akhirnya toh si anak boleh dibaptis dewasa. Tapi kalau orang (Katolik) membaptiskan anaknya setelah berusia 7 tahun lebih, ini mengejutkan saya,” kata beliau. 

Situasi lain yang perlu dicermati misalnya naik-turunnya jumlah kasus perkawinan campur dan jumlah umat yang berpindah agama. “Lingkungan-lingkungan harus lebih teliti mencermati situasi ini. Yang harus disyukuri, catatan tentang jumlah kasus pindah agama sudah diikuti dengan alasan mengapa pindah agama, meski belum tentu akurat seperti faktanya,” jelas Uskup. [Felix Iwan Wijayanto]