Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ
1995 – Saat Ini

Masa Kecil   
20 Desember 1934 Lahir di Muntilan, Jawa Tengah sebagai bungsu dari enam bersaudara pasangan Joachim Djasman Darmaatmadja dan Maria Siti Supartimah, sebuah keluarga sederhana yang berjiwa sosial.
21 Desember 1934 Dibaptis di Gereja St. Antonius Muntilan, dengan nama pelindung Julius.
1940-1941 Belajar di Sekolah Rakjat (SR) Kanisius, Salam.   
1942  Jepang menyerbu Hindia Belanda, Julius ikut keluarga mengungsi dan berpindah-pindah tempat tinggal.
1942-1943  Belajar di kelas II dan III SR Negeri Semen, Salam.
1944-1947 Melanjutkan pendidikan di kelas IV hingga tamat SR Wonosari, Muntilan.
1949 Melanjutkan pendidikan di SMP Kanisius, Muntilan.
   
Panggilan di Masa Muda
1951-1957 Melanjutkan pendidikan di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang.
7 Desember 1957 Masuk novisiat Serikat Yesus di Girisonta, Jawa Tengah.
1959-1961 Menjalani Tahun Yuniorat di Girisonta.
1961-1964 Belajar filsafat pada Kolese de Nobili di Poona, India hingga mencapai gelarlincensiat atau Master of Philosophy.
1964-1966 Menjadi Pamong dan Guru di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang.
1966-1971  Belajar Teologi di Institut Filsafat Teologi Kentungan, Yogyakarta.
   
Pelayanan sebagai Imam Jesuit
18 Desember 1969 Ditahbiskan sebagai imam oleh Kardinal Justinus Darmojuwono di Gereja St. Antonius, Kota Baru, Yogyakarta.
1971 Selama beberapa bulan menjadi pastor paroki Marganingsih di Kalasan, Yogyakarta.
1971-1973 Menjadi Socius (wakil) Magister dan menjadi Minister (Urusan Rumah Tangga) di Novisiat  SJ di Girisonta, di samping menjadi Pastor Paroki St. Stanislaus, Girisonta.
1973-1977  Diangkat menjadi Socius Provinsial dan Superior di Komunitas Provinsialat, Karangpanas, Semarang.
2 Februari 1975 Mengucapkan kaul terakhir dalam Serikat Yesus di Semarang.
1978-1981 Rektor Seminari Menengah Mertoyudan, anggota “Commissio de Ministeriis”dan koordinator “Commissio Educationis” Provinsi SJ Indonesia sekaligus Sekretaris Nasional untuk Komisi Para Jesuit Asia Timur yang berkarya di bidang Pendidikan 
15 Juni 1981-1983 Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia.
   
Mengabdikan Diri untuk Keuskupan Agung Semarang
1981-1983 Menjadi Anggota Dewan Penasehat Keuskupan dan Ketua Majelis Pendidikan Keuskupan.
21 Februari 1983  Dengan Bulla (surat resmi) Bapa Suci dan diumumkan secara resmi tanggal 9 April 1983 ditunjuk sebagai Uskup Agung Semarang.
29 Juni 1983 Pada hari Raya Petrus dan Paulus ditahbiskan sebagai Uskup Agung Semarang oleh Kardinal Justinus Darmojuwono di Gedung Olah Raga Jawa Tengah. Mottotahbisannya: “In Nomine Jesu” (dalam nama Yesus).
28 April 1984  Melalui Decretum Bapa Suci dan diumumkan secara resmi  tanggal 25 Juni 1984 ditunjuk menjadi Uskup Militer Indonesia untuk umat Katolik di lingkungan ABRI. 
1986-2 Januari 2006  Ditunjuk menjadi Uskup Militer di Indonesia bagi umat Katolik di lingkungan TNI-Polri.
20 Oktober 1990 Diangkat menjadi anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama.
November 1994  Diangkat menjadi anggota Kongregasi Penginjilan Bangsa-Bangsa.
27 Oktober 1994 Ditunjuk menjadi Kardinal oleh Paus Yohanes Paulus II, dilantik tanggal 26 November 1994 di Vatikan Roma.
   
Menjadi Uskup Agung Jakarta
6 Desember 1995 Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II mengangkat Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ sebagai Uskup Agung Jakarta.
29 Juni 1996 Dilantik sebagai Uskup Agung Jakarta. 
April 2003 Diangkat menjadi anggota Dewan Kepausan untuk Budaya.
   
Bertugas di MAWI/KWI
1985-1988 Terpilih sebagai Ketua Komisi Hubungan Antar Agama (HAK) Majelis Agung Waligereja Indonesia (MAWI, kini Konferensi Waligereja Indonesia/KWI).
17 November 1988 Terpilih sebagai Ketua KWI selama tiga periode hingga tahun 1997. Setelah itu, beliau terpilih lagi mengemban tugas yang sama pada dua periode, yakni tahun 2000 hingga 2006.
19 April-14 Mei 1998 Ditunjuk menjadi Presiden Delegat dalam Sidang Khusus Sinode Para Uskup Mengenai Asia. Sesudah sidang itu, beliau ditunjuk menjadi anggota Dewan Pasca Sidang Khusus, sampai sekarang.
20 Februari 2003  Bersama para tokoh agama-agama di Indonesia menemui Paus Yohanes Paulus II di Vatikan untuk menyampaikan keprihatian bangsa Indonesia atas rencana penyerangan Amerika Serikat dan beberapa negara “sekutunya” terhadap Irak.
15 Agustus 2005 Mendapat anugerah Bintang Mahaputera Utama dari pemerintah Republik Indonesia. Tanda kehormatan itu disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, melalui Keputusan Presiden No. 056/TK/Tahun 2005 tertanggal 9 Agustus 2005, dalam rangka Peringatan Hari Ulang Tahun ke-60 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

(Sumber: Dalam Nama Yesus, Kutebarkan Jalaku. Buku Kenangan 25 Tahbisan Uskup Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ. 2008)