Salah satu perkembangan kontemporer yang tidak dapat dihindari adalah penggunaan alat komunikasi modern untuk mendukung kehidupan Gereja dan karya pelayanannya. Karena kehidupan komunitas umat begitu penting sehingga perlu didukung dengan penggunaan alat-alat komunikasi modern dengan tetap waspada untuk tidak dikendalikan oleh alat tersebut, seperti: menjadi kecanduan atau memanfaatkannya secara menyimpang. Setiap orang hendaknya menjadi penjaga bagi dirinya untuk tidak menggunakannya justru sebagai alat untuk memecah belah atau membuat diri menjadi ekslusif, memisahkan mereka yang tidak memiliki akses yang sama.

Maka melek teknologi dalam dunia kontemporer merupakan hal yang penting dan krusial untuk memiliki pemahaman dasar tentang alat-alat komunikasi dan mengetahui bagaimana mengendalikan jika terjadi penyimpangan. Sehingga akses informasi jaman sekarang, memberdayakan bukan hanya orang yang memiliki kendali dan mampu mengaksesnya namun juga bagi umat yang dilayani.

Gereja memahami dan menggunakan internet sebagai peluang untuk memajukan komunikasi internal. Hal ini menuntut komunikasi dengan karakter khusus, sebagai langsung, segera, interaktif dan media partisipatoris. Cara interaktifitas internet telah mengabaikan cara lama, yaitu di antara mereka yang mengkomunikasikan dengan yang menerima infomasi dan menciptakan sebuah situasi potensial, kini setiap orang dapat mengerjakannya secara bersamaan. Komunikasi baru ini, bukan lagi komunikasi top-down. Sebagaimana semakin banyak orang dapat menjadi semakin akrab dengan gaya baru ini, mereka pun berharap cara ini ditemukan dalam agama dan Gereja.

Alat-alat komunikasi modern bila dimanfaatkan dengan baik ternyata membawa dampak positif bagi perkembangan Gereja. Beberapa di antaranya adalah:

1. Melek Teknologi
Memperluas melek teknologi kepada anggota komunitas umat merupakan langkah awal. Kenyataannya ditemukan kebuntuan pengetahuan di bidang teknologi sehingga sebagian kalangan umat seolah tertinggal dari komunitasnya. Kenyataan ini sangatlah merugikan. Maka penting untuk menyediakan fasilitas misalnya komputer atau akses internet yang dapat dimanfaatkan oleh anggota komunitas umat yang akan menggunakan dan mengambil untung darinya. Untuk mendukung hal ini perlu memilih relawan atau kader yang mampu mengerjakan administrasi komputer dasar dan memberikan pengajaran, bagaimana menggunakan teknologi secara produktif dan memperhatikan tuntutan etika. Komunitas umat perlu memilih orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mengampu media internet ini secara bijaksana dengan cara memperluas melek teknologi kepada anggota komunitas dan melayani dengan menggunakan internet. Dalam tim itu dapat dibagi peran, siapa yang menjadi administrator, siapa yang memecahkan masalah atau menjawab pertanyaan dan memberikan pengajaran dengan menggunakan jejaring internet. Dengan demikian, setiap anggota komunitas sungguh merasa nyaman menggunakan internet dan mengambil manfaat darinya.

2. Membuat Saling Terhubung
Koneksi antar anggota dalam komunitas, maupun antar komunitas umat secara luas, bahkan nasional dan internasional melalui penggunaan internet merupakan kesempatan besar untuk meningkatkan komunikasi tentang aneka kehidupan beriman yang diinspirasikan oleh setiap komunitas lokal. Komunikasi komunitas umat di dunia maya memberi kesempatan mereka dapat mengikuti konsultasi seputar kehidupan beriman Katolik.

Jejaring internet menjadikan setiap komunitas menjadi semakin terbuka dengan yang lain. Hal ini juga mempromosikan dialog yang dapat berlanjut menjadi apa yang disebut sebagai persekutuan kehidupan iman masa kini. Karena itu, setiap komunitas dapat bekerjasama dengan komunitas lain untuk dapat membuat sebuah situs web dan barangkali membuat ruang server di mana suatu komunitas dapat memiliki pilihan-pilihan isi yang terbatas. Dalam koneksi itu dapat pula dibuat jejaring informasi atau perpustakaan on line tentang kasanah pengetahuan iman, dokumen-dokumen Gereja yang amat kaya serta memuat koleksi-koleksi lain yang relevan.

3. Pelayanan
Pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan dan memperluas jangkuan pelayanan, termasuk keramah-tamahan, akan memberi semangat dan menjadi ladang bibit yang subur bagi perkembangan komunitas. Internet menyediakan bagi kita kesempatan untuk membagikan buah kehidupan rohani, doa, kesaksian iman maupun kebersamaan hidup dengan komunitas lain, bahkan di seluruh dunia. Sangatlah mungkin untuk membagikan kisah-kisah inspiratif yang tak terceritakan dari setiap anggota komunitas melalui website.

Isi dari website dapat dibuat lebih sederhana, misalnya jadwal daftar pelayanan Gereja atau komunitas, waktu doa atau sharing. Website dapat juga menyediakan beberapa kontak person untuk konsultasi iman, memberikan umpan balik yang sifatnya rutin kepada pengunjung atau menampilkan cuplikan kitab suci, tulisan-tulisan inspiratif, kutipan religius atau bahkan menyediakan kartu pos ucapan elektronik. Jika mungkin menyajikan spiritualitas kehidupan iman yang mendalam, informasi rohani, pengetahuan iman dan bahkan akses kepada pengunjung yang akan merespon secara pribadi. Pada dimensi lain, dapat diberikan kesempatan untuk membagikan sumber informasi khususnya bagi mereka yang kurang beruntung. Sehingga karya pelayanan melalui internet berguna pula bagi mereka yang kurang beruntung, misalnya beasiswa pendidikan, informasi lowongan pekerjaan dan dana-dana sosial. Termasuk menyajikan jejaring website yang merupakan lembaga non profit lokal.

4. Perluasan Keprihatinan
Potensi untuk meningkatkan kesadaran global di antara komunitas, khususnya mereka yang membutuhkan bantuan dan berkekurangan dengan menggunakan teknologi merupakan ide besar dan menarik. Namun harus dapat dipertanggujawabkan dan sungguh menjawabi kebutuhan kesulitan di dunia nyata. Terutama bagi mereka yang misalnya menghadapi kesulitan ekonomi, membutuhkan biaya sekolah, memerlukan modal usaha kecil, mengalami bencana atau membutuhkan modal. Mereka inilah yang tidak memiliki akses kepada internet yang karenanya perlu ditampilkan untuk mendapat perhatian. Dalam hal ini internet menjadi fasilitasi untuk mengakses sumberdaya yang mampu menolong mengurangi kesulitan, terutama bagi komunitas-komunitas yang terpinggirkan.

Ketika suatu komunitas bertemu dengan komunitas lain yang mengalami kesulitan, internet dengan akses terbatas dapat menjadi penolong untuk meneruskan informasi tentang mereka dan menyebarkan sumber info. Dengan demikian, terjadi kepedulian dan jejaring sosial yang sungguh berdampak positif dan berdaya guna. Memang yang sebenarnya dibutuhkan adalah pembelajaran tentang meluaskan pengetahuan teknologi dan akses internet bagi mereka di daerah yang membutuhkan bantuan.

5. Penguatan Komunio
Internet sangat relevan bagi banyak kegiatan dan program Gereja, untuk pewartaan, termasuk mengulangi pewartaan maupun evangelisasi baru, katekese, pendidikan anak, memperluas berita dan informasi, apologetik, perkembangan tata pemerintahan dan administrasi, pastoral konseling dan bimbingan rohani. Meskipun dunia maya- sibernetika, tidak dapat mengganti relasi interpersonal sebagaimana terjadi dalam persekutuan komunitas nyata, seperti juga pada kesempatan inkarnasi dalam Sakramen atau liturgi, pewartaan, pendalaman, pengarahan maupun pembacaan Kitab Suci yang “hidup”, penuh semangat dan berkobar-kobar. Namun pewartaan dunia maya berlaku komplementer, tetap dapat dapat menarik orang mengalami pengalaman hidup iman dan meningkatkan semangat religius para pengguna. Pula menyediakan kesempatan komunikasi anggota Gereja. Suatu komunikasi yang sangat bermakna, baik antar kelompok tertentu, orang muda dan dewasa, kaum tua dan orang rumahan, orang yang lokasinya berpindah dan anggota komunitas lain, yang sangat sulit untuk dijangkau secara fisik.

Pertumbuhan jumlah paroki, Keuskupan, Kongregasi Religious dan relasi lembaga Gereja, acara dan organisasi yang beragam bentuk, kini dapat menjalin persatuan dengan menggunakan internet secara efektif. Demi keperluan tersebut di atas maupun dan keperluan lain. Kenyataannya proyek kreatif seperti ini telah disponsori Gereja dalam beragam bentuk dan cara di beberapa komunitas. Memang setiap komunitas Gereja tidak bisa lepas untuk memasuki dunia maya dan mulai memikirkan untuk berbuat sesuatu yang berguna. Satu-satunya rekomendasi ialah menggunakan internet untuk pertukaran ide dan informasi, pertama-tama tentang internet di antara mereka yang memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang teknologi ini.

Penulis: A. Luluk Widyawan, Pr


Orangtua sekarang lebih banyak mendorong anak-anaknya untuk mengejar sukses duniawi. Tak heran kalau keluarga-keluarga kurang menjadi lahan yang subur bagi benih panggilan menjadi imam, biarawan atau biarawati. Itulah yang dikatakan Rm. J. Sudarminta, SJ, mantan rektor STF Driyarkara, Jakarta. “Hidup beriman keluarga-keluarga Katolik juga mengalami kemerosotan,” tandas Rm.Sudar.

Arus sekularisme yang berbarengan dengan materialisme, hedonisme, dan konsumtivisme sekarang kian deras menerpa keluarga-keluarga. Banyak orangtua lebih menanamkan cita-cita hidup pada diri anak-anaknya untuk menjadi orang kaya raya, berkuasa, populer di mana-mana, dan hidup enak tanpa harus kerja keras.

Padahal, keluargalah tempat persemaian pertama bagi bibit panggilan menjadi imam dan biarawan-biarawati. Kalau hidup beriman keluarga-keluarga Katolik semakin kering, benih panggilan imam dan biarawan-biarawati juga akan semakin sulit tumbuh.

Benih panggilan itu memerlukan iklim hidup keluarga yang mampu menghargai hal-hal yang bersifat rohani. Keluarga yang seperti ini dijiwai oleh semangat cinta sejati yang tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri saja (egois dan egosentris), tetapi juga punya kepedulian terhadap orang lain, khususnya mereka yang memerlukan pertolongan.

Hidup beriman keluarga-keluarga Katolik seharusnya cukup subur, sehingga kesadaran bahwa tujuan utama hidup manusia di dunia ini adalah untuk memuji, menghormati, dan mengabdi kepada Allah lewat pelayanan kepada sesama akan terus bergema di hati setiap anggota keluarga. Kalau ini yang terjadi, benih panggilan menjadi imam dan biarawan-biarawati juga akan bisa tumbuh subur.

Menurunnya minat kaum muda menjadi imam

Rm. J. Sudarminta adalah Guru Besar ilmu filsafat di STF Driyarkara, Jakarta. Selama 30 tahun masa hidupnya sebagai imam (ditahbiskan 29 Desember 1979), beliau pernah menjadi pastor rekan di paroki St. Theresia, Wonosari, Gunung Kidul selama kurang dari 2 tahun. Setelah itu, beliau menjalani 6 tahun studi khusus di New York, Amerika Serikat, termasuk 7 bulan Tersiat/mendalami spiritualitas SJ di Denver.

Sesudahnya, selama 22 tahun terakhir, beliau terlibat dalam karya pembinaan para calon imam, termasuk 4 tahun menjadi Prefek Spiritual (pamong bidang kerohanian) sekaligus dosen filsafat di Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan, Jogjakarta; menjadi Rektor Kolese Hermanum (rumah pembinaan para frater & bruder muda SJ) di Jakarta (1992-1998); menjadi Sekretaris Eksekutif Komisi Seminari KWI (3 tahun); dan menjadi anggota Seksi Seminari Tinggi, Komisi Seminari KWI (3 tahun). Kemudian antara 1998 – 2008 beliau menjadi Delegatus Formationis (koordinator pembinaan anggota) Provinsi Indonesia Serikat Jesus.

Berikut wawancara dengan Romo, yang akrab dipanggil Rm. Sudar ini, seputar minat kaum muda Katolik untuk menjadi imam, tantangan yang mereka hadapi, dan dukungan yang selayaknya bisa diberikan oleh umat bagi para calon imam.

Bagaimana Romo melihat minat kaum muda Katolik untuk menjadi imam dewasa ini?
Minat kaum muda Katolik untuk menjadi imam dewasa ini relatif menurun dibandingkan dengan masa yang lalu. Hal ini misalnya tampak dari gejala menurunnya jumlah siswa yang masuk di beberapa Seminari Menengah, seperti Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, Seminari Menengah Wacana Bhakti, Jakarta, dan Seminari Menengah Garum, Blitar. Kemudian untuk calon imam yang tidak lewat Seminari Menengah atau lewat kegiatan promosi panggilan langsung, kendati beberapa tarekat imam atau pun keuskupan cukup aktif melakukan promosi panggilan, jumlah yang masuk ke Tahun Rohani (untuk menjadi calon imam diosesan/praja) atau pun Novisiat (untuk menjadi calon imam tarekat/ordo/kongregasi) jumlahnya relatif tetap sedikit.

Dari mereka yang belajar di seminari, biasanya berapa persen di dalam satu angkatan yang berhasil menjadi imam?

Kalau diambil dari data Seminari Menengah, perbandingan antara jumlah calon yang masuk di Kursus Persiapan Pertama/KPP (= lulusan SMP yang masuk Seminari Menengah) dan yang kemudian berhasil ditahbiskan menjadi imam, persentasenya paling banter hanya 30-40%. Sedangkan perbandingan antara jumlah calon yang masuk di Kursus Persiapan Atas (= lulusan SMA yang masuk Seminari Menengah) persentasenya relatif sedikit lebih tinggi, karena bisa mencapai 50-60%; tetapi jumlahnya biasanya juga lebih sedikit.

Kalau data diambil dari jumlah calon yang masuk Tahun Rohani (untuk imam diosesan) dan masuk Novisiat (untuk imam ordo/kongregasi), persentasenya antara 50-60%. Dari data Novisiat S.J. Indonesia misalnya, dari rata-rata masuk per tahun 10 orang, yang akhirnya ditahbiskan menjadi imam sekitar 5-7 orang. Tetapi itu angka rata-rata saja, sebab ada juga angkatan yang sedikit sekali yang akhirnya ditahbiskan.

Apa tantangan terbesar yang dihadapi kaum muda Katolik untuk menanggapi panggilan mereka sebagai imam?
Menurut pendapat saya, tantangan terbesar yang dihadapi kaum muda Katolik untuk menanggapi panggilan mereka sebagai imam adalah tuntutan hidup selibat demi Kerajaan Allah, dan harapan umat bahwa imam dapat menjadi teladan kesucian. Di tengah kuatnya pengaruh budaya pan-seksualisme dan berbagai tawaran mereguk kenikmatan hidup di dunia, tuntutan hidup selibat demi Kerajaan Allah yang mengandaikan pengorbanan dan penyangkalan diri, terasa sebagai sesuatu yang langsung bertentangan dengan arus umum dalam masyarakat. Hidup selibat dianggap bertentangan dengan kodrat manusia untuk hidup berkeluarga.

Harapan umat agar imamnya dapat menjadi teladan kesucian juga terasa amat menantang bagi kaum muda Katolik untuk menanggapi panggilan mereka sebagai imam, karena mereka amat sadar akan keterbatasan dan kedosaannya. Tidak ada manusia yang sempurna. Imam yang jatuh ke dalam dosa sering lebih mudah dicela daripada kalau yang jatuh ke dalam dosa adalah awam. Apalagi sejarah juga menunjukkan adanya skandal yang melibatkan imam sebagai pelakunya. Kalau jumlah kegagalan imam dalam mewujudkan cita-citanya itu cukup besar, banyak orang muda juga akan merasa gamang untuk masuk dan bergabung dengan kelompok para imam. Akan sanggupkah saya untuk bertahan dan akan sanggupkah saya memenuhi harapan umat terhadap imamnya yang sering begitu tinggi?

Bagaimana seharusnya kaum muda yang merasa terpanggil bisa berteguh dalam menanggapi panggilannya?
Pertama ia harus memiliki keyakinan iman, kalau Tuhan sungguh memanggil, pasti Tuhan juga akan memberi jalan dan rahmat untuk dapat menghayati cara hidup yang telah dipilihnya. Kedua, ia perlu memiliki keyakinan iman bahwa cara hidup sebagai imam adalah cara hidup yang sungguh berarti, baik untuk dirinya maupun bagi orang lain. Asal dihayati dengan penuh cinta pada tugas dan panggilannya, seperti halnya hidup berkeluarga, hidup sebagai imam juga dapat memberi kepuasan batin dan kebahagiaan yang sungguh-sungguh. Ketiga, kaum muda yang merasa terpanggil perlu bertekun dalam doa, setia melakukan bimbingan rohani, dan membina hidup rohaninya sehingga relasi pribadinya dengan Kristus yang mau diikutinya seumur hidup dapat semakin mendalam. Kedalaman relasi pribadinya dengan Kristus dapat menumbuhkan rahmat persahabatan khusus dengan-Nya yang memungkinkan ia mampu mencintai orang lain dalam Kristus. Kehadiran Tuhan semakin dapat ia rasakan dan memenuhi hatinya dalam segala hal yang ia alami. Keempat, untuk berteguh dalam menanggapi panggilannya, seorang calon imam juga perlu setia menjalani pembinaan, baik pembinaan manusiawi, rohani, intelektual, maupun pastoral. Kelima, untuk dapat berteguh dalam panggilannya calon imam juga harus berusaha membangun hidup bersama dengan rekan-rekan calon imam lain dalam semangat persaudaraan. Calon imam yang lebih suka menyendiri, sulit hidup dan bekerja sama dengan pimpinan maupun rekan-rekan calon imam lain biasanya sulit bertahan. Keenam, untuk bisa berteguh dalam menanggapi panggilannya, calon imam juga memerlukan dukungan dari keluarga, sahabat, dan teman-teman dekatnya.

Berapa rasio antara jumlah imam dan umat saat ini?
Di wilayah Keuskupan Agung Jakarta saat ini rasio perbandingan antara jumpah imam dan umat yang dilayani adalah 1: 300; di beberapa paroki bisa lebih banyak dari itu.

Bagaimana peran keluarga bagi ‘lahirnya’ gembala-gembala umat yang baru? Apakah keluarga-keluarga sekarang masih menjadi ladang yang subur?
Keluarga adalah tempat penyemaian pertama bagi bibit panggilan menjadi imam dan biarawan-biarawati. Kalau hidup beriman dalam keluarga-keluarga Katolik cukup subur, sehingga kesadaran bahwa tujuan utama hidup manusia di dunia adalah untuk memuji, menghormati dan mengabdi kepada Allah lewat pelayanan kepada sesama manusia masih terus bergema dalam hati setiap anggota keluarga, maka benih panggilan menjadi imam dan biarawan-biarawati juga akan dapat tumbuh subur. Atau sekurang-kurangnya kalau keluarga menjadi saksi hidup bagi penghayatan cinta yang sejati yang menemukan kebahagiaan dalam membahagiakan orang lain, maka keluarga itu dapat menjadi tempat persemaian pertama bagi bibit panggilan menjadi imam dan biarawan-biarawati.

Akan tetapi kalau hidup beriman dalam keluarga-keluarga Katolik semakin kering karena arus sekularisme berbarengan dengan materialisme, hedonisme dan konsumtivisme semakin deras, benih panggilan imam dan biarawan-biarawati juga akan semakin sulit tumbuh. Kalau cita-cita hidup yang ditanamkan orangtua dalam diri anak-anaknya adalah pertama-tama bagaimana menjadi orang yang kaya-raya, berkuasa, populer di mana-mana, hidup enak tanpa harus kerja keras, menjadi orang yang sukses di dunia ini, maka benih panggilan imam dan biarawan-biarawati akan sulit tumbuh dalam keluarga.

Benih panggilan itu memerlukan iklim hidup berkeluarga yang mampu menghargai hal-hal yang bersifat rohani, keluarga yang dijiwai oleh semangat cinta yang sejati yang tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri saja (egois dan egosentris), tetapi juga punya kepedulian kepada orang lain, khususnya mereka yang memerlukan pertolongan.

Menurut pendapat saya keluarga-keluarga sekarang sudah kurang menjadi ladang subur bagi benih panggilan menjadi imam dan biarawan-biarawati karena hidup beriman dalam keluarga-keluarga Katolik juga mengalamai kemerosotan. Arus sekularisme yang lebih mengutamakan hal-hal duniawi dan materialisme yang cenderung lebih mengutamakan hal-hal yang bersifat materiil daripada yang rohani menyebabkan cita-cita menjadi imam tidak lagi menarik untuk kaum muda. Orangtua juga lebih banyak mendorong anak-anaknya untuk mengejar sukses duniawi.

Apa yang bisa dilakukan umat untuk mendukung para gembalanya di dalam pelayanan mereka?
Pertama mendukung para gembalanya dengan mendoakan mereka dan menunjukkan bahwa pelayanan mereka memang diperlukan oleh umat. Kedua, umat yang mampu juga perlu mendukung keperluan finansial yang terkait dengan tugas pelayanan mereka, misalnya dengan mendukung terlaksananya proyek-proyek penting dalam pembangunan dan pengembangan jemaat. Ketiga, umat perlu menjadi teman, syukur sahabat, dalam menghadapi tantangan dan kesulitan yang terkait dengan penghayatan panggilan imamat para gembalanya. Hal itu misalnya dilakukan dengan memberi dukungan untuk kelancaran karya pelayanannya, memahami keterbatasan dan kelemahannya sebagai manusia, dan dengan memberi saran, nasihat, peringatan bila perilakunya sudah membahayakan panggilan imamatnya. Keempat, para gadis dan ibu-ibu yang secara manusiawi tertarik kepada imam gembalanya atau sebaliknya, tidak membuat imam itu jatuh dan bahkan menyeret keluar dari hidup imamatnya.

sumber http://www.catholicdailyindonesia.com/tanya-jawab-dengan-rm-sudar-sj/

Seorang pemuda berdiri di tangga gereja, mencoba mencari arti dirinya sebagai pelayan. Di sisi lain tangga itu, seorang nenek, dengan bertopang pada payung yang dia bawa, kepayahan menaiki tangga gereja.

Menghampiri nenek itu, si pemuda kemudian berkata, “Nek, mari saya bantu.” Keheranan tampak pada raut muka sang nenek, namun ia mengulurkan tangannya juga untuk dibantu.

Lewat tangga terakhir, sang nenek menggenggam tangan si pemuda lebih keras. Ia bertanya, “Kamu siapa?” Kaget dengan pertanyaan yang tak disangka, pemuda itu berkata, “Saya yang bantu-bantu disini, Nek.” Tersenyum, nenek itu berkata, “Nanti Tuhan yang bisa balas yah.” Si nenek pun berlalu ke dalam gereja.

Terpaku, hati kecil si pemuda berkata, “Inilah yang membuat pelayananku berarti.” …dan setetes air mata pun jatuh mengakhiri pertemuan itu..

“Kami tidak layak, namun Engkau memanggil kami menjadi pelayan-pelayan-Mu.”

tulisan romo Iko (kepala Seminari Menengah Stella Maris, Bogor) – 02/05/10

sumber http://www.catholicdailyindonesia.com

Hidup berkeluarga adalah panggilan. Sudahkah Anda menghayati panggilan ini? Berikut 4 pertanyaan yang perlu Anda ajukan sebagai anggota keluarga. Jawaban keempat pertanyaan ini harus “ya” untuk mengindikasikan bahwa Anda merasa bahagia di dalam keluarga Anda.

  1. Apakah Anda merasa punya “home”? Meski di rumah hanya ada nasi putih, sayur bayam, dengan lauk yang begitu-begitu saja, tapi Anda merasa senang. Makanan itu tetap terasa enak, karena di rumah Anda makan dengan rukun bersama keluarga. Boleh saja sesekali ada pertengkaran, karena itu justru menjadi “bumbu” yang menyedapkan. Tapi di rumah itulah Anda merasakan adanya kenyamanan, dan rasa memiliki (sense of belonging) sebuah keluarga. Rumah telah menjadi “home” dan bukan sekedar “house” bagi Anda.
  2. Apakah ada komunikasi? Dulu semasa pacaran, panggilan-panggilan mesra selalu terdengar. “Hello, honey…” Tapi setelah menikah, “Heh… heh…” Bahkan sebelum menikah pun sudah memanggil “papi” atau “mami”, tapi setelah menikah, ternyata yang meluncur justru kalimat, “ Hei… kamu!” Apalagi adanya fb, plus segala keasyikan dan ‘iming-iming’ dari dunia maya, para suami jadi lebih senang berada di depan komputer daripada mengantar istrinya jalan-jalan ke mal. Komunikasi pun menjadi tak lancar, karena masing-masing asyik dengan dunianya sendiri. Tidak adanya komunikasi ini akhirnya membuat perkawinan menjadi tidak harmonis.
  3. Apakah ada senseless love – cinta tanpa syarat, cinta yang tidak menuntut balik untuk segala yang diberikan? Cinta suami istri adalah cinta yang hanya memberi. Cinta istri yang seperti air yang mengalir akan membuatnya memperoleh cinta suami yang juga tak pernah berhenti mengalir. Tapi kalau cinta itu sudah menuntut balik, apalagi ada embel-embel materi, keluarga akan berada di ambang perpecahan.
  4. Apakah saling memberikan waktu untuk keluarga? Bila Anda sekarang ini selalu punya waktu untuk anak-anak, maka kelak anak-anak juga akan punya waktu untuk Anda. Tapi kalau sekarang Anda selalu beralasan tidak punya waktu untuk anak-anak, karena sibuk bekerja dari pagi sampai malam, jangan heran kalau suatu hari nanti, ketika Anda sudah pensiun, sudah di rumah saja, anak-anak juga akan tidak punya waktu untuk Anda. Dan ketika Anda bertanya, “Kenapa tidak pernah mengunjungi mama-papa?”, jawabannya adalah, “Maaf Ma, maaf Pa, kami sibuk sekali.”

Jangan berjanji untuk menjadi orang yang baik selama setahun, karena besok Anda pasti sudah gagal. Berjanjilah untuk menjadi orang yang baik satu hari saja, setiap pagi. Dari pagi sampai malam, Anda boleh berjuang untuk menjadi ayah yang terbaik, suami yang terbaik, istri yang terbaik, dan anak yang terbaik. Malam harinya, bersyukurlah kepada Tuhan, untuk keberhasilan satu hari yang sudah Anda raih. Dan esok pagi, berikan lagi janji yang sama pada Tuhan. Lakukan setiap hari! (01)

Disarikan dari Homili RD Alfons Sebatu Pr., dalam Misa Penutupan Rekoleksi KTM bertema “Keluarga Kristiani Menghadapi Era Globalisasi” di Katedral Bogor, Selasa

sumber http://www.catholicdailyindonesia.com/4-pertanyaan-untuk-keluarga-kristiani/


kisah yang menjadi refleksi buat diri kita. Suatu saat di sebuah desa di Jepang ada tradisi anak akan membuang orang tua mereka yang sudah uzur ke hutan. Alkisah, suatu hari seorang pria berjalan tertatih-tatih karena membopong seorang wanita tua ke hutan untuk dibuang. Wanita tua itu adalah ibu kandungnya sendiri. Ketika pria itu menggendong ibunya ketengah hutan, disepanjang perjalanan sang ibu mematahkan ranting-ranting kecil yang bisa digapainya. Setelah sampai ditengah hutan, pria itu menurunkan ibunya sembari berkata: “Bu, kita sudah sampai.” Sebenarnya pria itu bergumul dengan perasaan sedih dihatinya, tetapi entah kenapa dia tega melakukannya. “Nak, Ibu sangat mengasihimu. Sejak kau kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang Ibu miliki dengan tulus, bahkan sampai detik ini.

Ibu tidak ingin engkau tersesat saat pulang nanti, karena itu tadi Ibu mematahkan ranting-ranting kecil disepanjang jalan. Ikutilah patahan ranting itu maka engkau akan sampai dirumah dengan selamat.” Demikian pesan si Ibu sambil memberikan pelukan untuk yang terakhir kalinya. Mendengar itu, hati si anak menjadi hancur, ia tak bisa lagi membendung air matanya. Sambil menangis ia memeluk ibunya sangat erat. Kemudian digendongnya wanita tua itu untuk dibawa pulang. Konon, pria itu merawat ibunya dengan penuh kasih sampai ajal memanggil ibunda tercinta. Ketulusan kasih seorang ibu tidak berubah!

Kisah ini menjadi peneguh bagi kita bahwa kasih sayang seorang ibu tidak pernah berubah, meskipun seorang anak tega berbuat jahat kepada wanita yang sudah mengandung, melahirkan, merawat dan membesarkannya. Di zaman ini, tidak sedikit kita menjumpai kejadian yang demikian. Memang sudah tidak ada lagi anak yang membuang orang tuanya ketengah hutan, tetapi ada banyak anak yang sibuk mengurus bisnis atau kehidupannya sendiri dan membiarkan orang tuanya menjalani hari tuanya dalam kesepian yang tidak bertepi. Ada pula anak yang karena tidak mau susah malah memasukkan orang tuanya ke panti jompo, dan jarang sekali pergi membesuknya.

Dulu waktu kita kecil, orang tua kita juga sibuk mencari nafkah yang akan digunakan untuk membeli susu, pakaian dan biaya sekolah kita, tetapi mereka tetap merawat kita. Tentu akan lebih mudah dan tidak merepotkan jika mereka menitipkan kita untuk diasuh serta dibesarkan dipanti asuhan atau dirumah singgah, tetapi mereka tidak melakukannya karena mereka mengasihi kita dengan tulus. Mengapa kita tidak memberikan cinta yang sama besarnya dengan cinta yang sudah kita terima dari mereka selama puluhan tahun?

Seharusnya kasih itu menular, lalu mengapa kasih orang tua itu tidak menular kepada kita? Mungkin karena kita terlalu egois dan tidak mau direpotkan. Mulai hari ini baiklah kita belajar untuk menghormati ibu, bapak atau mertua kita sepenuh hati. Lakukanlah, karena ada berkat khusus bagi orang yang menghormati orang tuanya!

sumber http://www.catholicdailyindonesia.com

Melihat perilaku para pemimpin dan wakil rakyat yang membuat banyak orang mengelus dada mungkin membuat umat Katolik khususnya kaum mudanya jadi enggan terjun di kancah perpolitikan tanah air. Padahal sebetulnya hal itu tak perlu terjadi. “Kita tak perlu ragu untuk berperan serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tak perlu merasa gamang” kata Dr. Cosmas Batubara -yang pernah 10 tahun menjadi anggota DPR dan 15 tahun menjadi menteri selama Masa Orde Baru- dalam acara bincang-bincang tentang Perpolitikan Katolik di Indonesia yang digelar oleh Kerawam di Gereja St Theresia Jakarta, Jumat, 19 Maret 2010 lalu.

Keikutsertaan orang Katolik dalam kancah politik di tanah air bisa dilihat sejak sebelum masa kemerdekaan. Tokoh yang banyak berperan pada masa itu adalah Romo Van Lith yang memberikan dorongan dan dukungan agar kaum muda ikut berperan serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga banyak kaum muda yang terinspirasi. Sebut misalnya, Kasimo; yang terkenal dengan semboyannya: Salus populi suprema lex (kesejahteraan rakyat adalah hukum tertinggi). Kemudian bisa dipelajari pula sikap almarhum Mgr Albertus Soegijapranata SJ, yang selalu menegaskan sikap golongan Katolik dalam keterlibatan di bidang kehidupan politik: In principiis, unitas; in dubiis, libertas; in omnibus, caritas (dalam hal-hal prinsip adalah satu; dalam hal-hal yang masih terbuka, bebas; dalam segala hal, kasih). Ketika itu ada satu motto yang sangat terkenal yaitu 100% Katolik, dan 100% Indonesia. Masih ada pula nama-nama lain seperti almarhum Frans Seda, yang tema perjuangannya adalah kesetiaan kepada tanah air, Pancasila dan Bunda Gereja. Lalu JB Sumarlin, Benny Moerdani, Sudradjat Djiwandono dan kini ada pula nama Mari Elka Pangestu, dll. “Kita ingin orang Katolik bisa lebih ikut berperan dalam pengambilan keputusan bagi kepentingan bangsa dan negara” kata Cosmas.

Untuk itu Cosmas berharap agar generasi muda Katolik terdorong untuk ikut terjun ke bidang politik dengan menjadi birokrat, anggota Polri/TNI, pengusaha, partisan politik, dll dan memberikan kontribusinya sesuai dengan bidangnya masing-masing. Kader politik yang baik, menurut Cosmas, adalah kader yang punya pribadi, berkarakter, sopan dan bukan yang suka menjilat. Mereka selayaknya juga tidak berbicara kasar tetapi menyampaikan pandangannya dengan baik dan tertata. “Omongan boleh sampai tetapi fisik tidak boleh sampai” katanya. Tata cara seperti ini harus sudah dikuasai lebih dulu oleh kader sebelum terjun ke politik. Matang dan terlatih dalam public speaking juga sangat penting sehingga orang dapat mengemukakan pendapat secara jelas dan sistematik, tidak emosional dalam perdebatan dan adu argumentasi dan bisa memimpin. (01)

sumber http://www.catholicdailyindonesia.com

Basilika Santo Paulus Roma

BASILIKA SEORANG RASUL BESAR

Di Roma terdapat empat basilika agung: Basilika St. Petrus, St. Yohanes  Lateran, Maria Maggiore dan Basilika Santo Paulus. Yang terakhir ini biasa disebut dengan nama resmi: Basilica di San Paolo fuori le Mura (Basilika Santo Paulus di luar tembok). Disebut demikian karena terletak di luar tembok kota Roma.

Menurut ceritera, Santo Paulus dieksekusi dengan cara dipenggal kepalanya di Roma. Hal itu terjadi saat kaisar Nero berkuasa. Para pengikut Paulus menguburkan jenasahnya serta membuat suatu peringatan di atas makamnya, cella memoriae. Orang-orang kristiani purba kerap berjiarah ke makam rasul besar ini.

Di atas makam inilah Kaisar Konstantinus mendirikan gereja Santo Paulus yang pertama (Nopember 324). Pada tahun 386, Kaisar Theodosius membangun basilika yang lebih besar, setelah sebelumnya meruntuhkan gereja pertama. Menurut catatan yang tertulis dalam tiang utama, basilika ini diberkati pada tahun 390 namun pembangunannya sendiri baru selesai tahun 395 pada masa Kaisar Honorius memerintah.

Gereja megah ini dalam perjalanan sejarah, mengalami beberapa kali renovasi. Gereja ini juga beberapa kali mengalami kerusakan. Pada abad ke-sembilan, saat terjadi penyerbuan Saracen, basilika mengalami kerusakan berat. Namun, kerusakan paling parah terjadi pada tanggal 15 Juli 1823. Saat itu basilika nyaris musnah dilahap si jago merah. Hal ini disebabkan kelalaian seorang pekerja yang sedang memperbaiki atap gereja. Selain gereja, turut juga terbakar barang-barang bersejarah yang telah tersimpan selama 1.435 tahun di dalamnya.

Paus Leo XII menunjuk sebuah komisi untuk membangun kembali basilika dengan ukuran yang sama dengan sebelumnya. Seluruh dunia bahu membahu mendirikan kembali basilika bersejarah ini. Viceroy dari Mesir mengirim pilar-pilar batu pualam, Kaisar Rusia menyumbang barang-barang berharga untuk tabernakel sementara bagian utama diselesaikan atas bantuan pemerintah Italia.

Basilika Santo Paulus dibuka kembali pada tahun 1840. Kendati demikian, pemberkatan serta peresmiannya baru dilakukan limabelas tahun kemudian oleh Paus Pius IX.  Saat itu hadir sekurangnya lima puluh kardinal.

Patut dicatat, bersebelahan dengan basilika dibangun sebuah beranda oleh keluarga Vassalletti (1208-1235). Sebuah puisi tertulis dalam beranda tersebut yang menggambarkan kehidupan para rahib. Para rahib memang tinggal di biara sekaligus menjadi penjaga basilika.

Sebagai daya tarik pengunjung, di kompleks basilika, terdapat juga museum serta toko souvenir. Bila sekedar ingin membeli barang-barang religius seperti rosario atau salib, tidak disarankan membeli di tempat ini. 

Megah.

Basilika Santo Paulus di luar tembok merupakan gereja terbesar kedua sesudah basilika Santo Petrus di Vatikan. Basilika St. Paulus memiliki panjang 131.66 meter, lebar 65 dan tinggi nyaris 30 meter. Dengan 80 tiang-tiang besar yang terdapat di bagian depan gereja, basilika ini terasa megah. Di bagian depan kanan basilika, terdapat pintu suci yang hanya dibuka pada tahun-tahun jubileum saja atau setiap 25 tahun sekali. Sementara di sayap pintu utama terdapat patung St. Petrus dan Paulus hasil karya Gregorio Zappala (abad 19).

Ada yang unik dalam gedung basilika ini. Di sekeliling basilika, bagian atas, terdapat lukisan mosaik setiap Paus. Sejak Paus pertama, yaitu Santo Petrus, hingga Paus yang kini bertahta, Benediktus XVI terdapat gambarnya. Dengan demikian, sudah ada 265 gambar Paus terdapat di dalam tempat khusus tersebut. Kalau kita perhatikan, hanya tinggal beberapa tempat saja yang tersisa. Konon, bila semua tempat telah terisi, maka duniapun akan kiamat….

Paulus adalah rasul besar yang amat berjasa menyebarkan ajaran Kristus. Basilika megah yang kokoh berdiri adalah bukti penghormatan nyata atas jasa-jasa Paulus. Berjiarah ke tempat ini mengingatkan kita akan perjuangan serta pengorbanan Paulus yang luar biasa demi gereja, demi kita semua.

Heri Kartono OSC.

(Dimuat di majalah MENJEMAAT, Medan, edisi Nopember 2008)

Sinode Para Uskup

MEMBANGKITKAN GAIRAH BARU ATAS KITAB SUCI

Sinode para Uskup yang berlangsung selama tiga minggu diakhiri dengan Misa Agung dipimpin oleh Paus Benediktus XVI (26/10/08). Dalam kotbahnya, Paus antara lain berharap agar para Uskup Cina daratan yang dilarang hadir oleh pemerintah Komunis Cina tetap bertekun dalam kesulitan. Pada kesempatan yang sama Paus mengumumkan rencana lawatannya ke Afrika bulan Maret 2009.

Sinode para Uskup berlangsung sejak 5 – 26 Oktober 2008.  Ini adalah Sinode biasa Para uskup yang ke XII. Sinode Para uskup adalah lembaga yang didirikan oleh Paus Paulus VI pada 15 September 1965. Hal ini merupakan jawaban atas keinginan para bapak Konsili Vatikan II yang menghendaki mempertahankan semangat positif yang dialami selama Konsili. Sinode barasal dari dua kata Yunani yang berarti berkumpul bersama. Sinode merupakan pertemuan religius dimana para uskup dari seluruh dunia berkumpul bersama Bapa Suci. Wakil Indonesia dalam Sinode ini adalah Mgr. Ign. Suharyo Pr dan Mgr. A.B. Sinaga OFMCap.

Sinode  yang digelar dengan topik The Word of God in the Life and Mission of the Church (Sabda Allah dalam Kehidupan dan Misi Gereja) ini dihadiri 253 Uskup, Uskup Agung dan Kardinal dari seluruh penjuru dunia. Ada pula beberapa peserta yang bukan Uskup, seperti Mgr. Dr. Glen Lewandowski OSC. Ia merupakan salah satu perwakilan pimpinan tarekat religius. Di samping itu, ada juga sejumlah tokoh yang diundang sebagai pendengar. Beberapa tokoh ternama seperti Bruder Alois dari Taize dan Enzo Bianchi, pimpinan komunitas Bose hadir sebagai undangan khusus. Untuk pertama kalinya, Sinode ini dihadiri juga oleh perwakilan dari agama lain.

Sasaran sinode, seperti ditulis John Allen Jr, adalah membangkitkan kecintaan/  gairah baru atas Kitab Suci. Pada saat yang sama Sinode ingin mendorong umat Katolik untuk membaca KS dalam tradisi gereja yang hidup. Dengan demikian, diharapkan kita dapat berpegang pada iman dan akal sekaligus. (The National Catholic Reporter, 17 Oktober 2008).

Kesepakatan dan Ketegangan

Dalam Sinode ini ada banyak hal yang menjadi kesepakatan bersama. Beberapa di antaranya: Pertama, Sabda Tuhan dalam gereja Katolik  dimengerti lebih luas dari sekedar teks tertulis sebuah Kitab Suci. Sabda Tuhan pertama-tama mengacu pada sebuah pribadi Jesus Kristus.

Kedua, Kitab Suci harus dibaca dalam konteks gereja, tradisi, ajaran doktrin serta ibadat. Dengan kata lain, ada kaitan erat antara Injil dan liturgi, khususnya Misa.

Hal lain yang menjadi kesepakatan umum: Injil bukanlah sekedar sebuah literatur kuno. Karenanya Injil tak bisa ditafsirkan hanya dengan kacamata sejarah serta kritik literatur. Interpretasi Injil harus lebih mendalam, yaitu pada exegese theologis yang menghubungkan studi Kitab Suci dengan iman gereja serta perjuangan nyata manusia.

Dalam sinode juga muncul beberapa topik yang sempat menimbulkan ketegangan meski tidak sampai menjadi debat terbuka. Dua contoh topik yang menimbulkan ketegangan adalah topik Petugas Sabda Awam serta masalah Metode Kritis-historis sebagai cara untuk membaca serta mengerti Kitab Suci. Di beberapa tempat, dimana kehadiran seorang imam amat langka, maka umat melakukan Ibadat Sabda yang dipimpin seorang awam. Kenyataan ini memunculkan keprihatinan baik dari sisi teologis maupun praktis.  Apakah Ekaristi sebagai satu-satunya sumber dan puncak kehidupan Kristiani? Yang jelas, di beberapa daerah, umat tak akan pernah berkumpul bila harus menunggu perayaan Ekaristi. Ibadat Sabda adalah solusi dari situasi ini. Secara praktis, sejumlah Uskup khawatir bahwa mempromosikan pelayan sabda awam terlalu gencar, akan berakibat menurunnya minat kaum muda menjadi imam. 

Ketegangan yang lumayan tinggi terjadi antara kelompok yang menekankan eksegese kritis historis untuk mengerti Kitab Suci dengan tepat dan kubu yang lebih menekankan penafsiran rohani. Metode kritis-historis adalah suatu cara mengerti Kitab Suci dengan memanfaatkan hasil penyelidikan sejarah serta kritik literatur. Dengan cara ini Kitab Suci dapat dimengerti secara tepat baik dari sisi sejarah maupun sastra. Tidak semua orang sependapat dengan pendekatan ini. Thomas Rosica, sarjana Kitab Suci asal Kanada, memberi gambaran tentang hal ini. “Kami semua dilatih sebagai ahli bedah’, ujarnya. “Maksudnya, para ekseget (ahli Kitab Suci) belajar bagaimana memotong ayat-ayat dalam Kitab Suci secara persis dan mampu mengalisa artinya secara tepat. Yang sering dilupakan adalah, kami sedang membedah tubuh yang hidup, bukan sebuah mayat”, papar Rosica, penanggung jawab Press briefing Sinode berbahasa Inggris. 

Ketegangan dua kubu ini mengundang intervensi Paus Benediktus XVI, sesuatu yang amat jarang terjadi. Mgr. Dr.Glen Lewandowski OSC, salah satu peserta Sinode, menceriterakan tentang intervensi Paus tersebut. Menurutnya, Paus sambil mengutip dokumen Dei Verbum 12 menyatakan bahwa metode kritis historis adalah cocok untuk menafsirkan suatu teks dalam konteks asal mula sejarahnya. Sebab, bagaimanapun Kitab Suci memiliki dimensi sejarah dan manusiawi yang harus diketahui serta ditafsirkan. Dilain pihak, teks Kitab Suci memiliki arti yang lebih dalam dari sekedar unsur sejarah dan manusiawi. Arti terdalam serta spiritual inilah yang kiranya perlu digali. Dengan kata lain, mengerti Kitab Suci secara akademik dan spiritual haruslah saling melengkapi. Yang jelas, intervensi Paus berhasil meredakan ketegangan yang sempat terjadi.

Mengagumkan, Memperkaya

Dalam Sinode ini banyak orang mendapat kesempatan untuk berbicara. Dari 253 peserta Sinode, sekitar 220 memberi paparan, masing-masing selama 5 menit. Sesudah waktu lima menit, microphone otomatis akan berhenti. Sistem ini berlaku bagi semua orang dan berjalan efektif. Banyak peserta merasa kagum atas cara kerja panitia. Hebatnya, semua paparan yang disampaikan pada pagi hari, siang harinya sudah langsung tersedia, tercetak rapi bagi semua peserta. “Pendapat Max Weber bahwa Vatikan merupakan salah satu birokrasi modern yang paling efisien, rupanya masih tetap berlaku”, ujar seorang peserta penuh kekaguman. Selain rasa kagum, ada cukup banyak peserta yang menyimpan kekecewaan. Dokumen akhir dan resmi dikeluarkan Vatikan dalam bahasa Latin. Beberapa peserta, termasuk Glen Lewandowski, kecewa dan mengeluh, mengingat bahasa Latin tidak banyak dimengerti lagi.

Seorang Uskup dari Zambia, Mgr. George Cosmas Zumair Lungu saat ditanya kesannya mengikuti Sinode, mengaku amat tertarik dan senang. “Sangat menarik mengamati beragam pandangan para pemimpin gereja dari pelbagai penjuru dunia. Ada perbedaan cara pandang di antara para peserta, khususnya antara peserta dari negara maju seperti Eropa Barat dan peserta dari negara berkembang, seperti negara-negara di Afrika. Sinode ini memperkaya wawasan saya”, ujarnya dalam bahasa Inggris.

Mgr. Ign. Suharyo mempunyai kesan tersendiri tentang Sinode ini. Ia amat tertarik pada proses sinodalitas yang terjadi. “Orang dari latar belakang budaya serta bahasa yang berbeda dapat bersama-sama mencari jalan terbaik demi kepentingan gereja. Panitia dipilih oleh sidang dan usul-usul ditetapkan melalui voting. Sungguh suatu dinamika yang menarik!”, ungkap Uskup yang berpembawaan tenang ini. Lebih lanjut, mantan Dosen Kitab Suci ini berharap bahwa para peserta Sinode dapat membawa serta menerapkan hasil sinode sampai ke akar rumput di tempatnya masing-masing. “Ini PR yang tidak mudah!”, ujar Suharyo.

Sinode para uskup yang berlangsung selama tiga minggu diselingi beberapa acara ringan. Salah satunya, Paus menjamu peserta Sinode dengan pertunjukan Orkes Simphoni dari Vienna di bawah asuhan Maestro Christoph Eschenbach. Orkes lengkap yang menyajikan Symphony keenam gubahan Anton Bruchner ini diselenggarakan di Basilika Santo Paulus di luar tembok Roma (13/10/08).

Heri Kartono, OSC (dimuat di majalah HIDUP edisi 2 Nopember 2008).

Pencabutan Ekskomunikasi


HEBOH PENCABUTAN EKSKOMUNIKASI 4 USKUP

Dalam upaya rekonsiliasi, Paus mencabut hukuman ekskomunikasi empat uskup kelompok Mgr. Marcel Lefebre. Keputusan Paus ini mengundang kegemparan dan kemarahan kaum Yahudi. Ada apa gerangan?

Lima puluh tahun yang lalu, tepatnya hari Minggu, 25 Januari 1959, Paus Yohanes XXIII mengumumkan perlunya diadakan suatu konsili para uskup sedunia untuk membaharui gereja. “Sudah tiba saatnya untuk membuka jendela-jendela dan membiarkan angin segar masuk”, ujarnya saat itu. Konsili, yang kemudian dikenal sebagai Konsili Vatikan II, dibuka pada bulan Oktober 1962 dan baru berakhir pada 1965.

Konsili Vatikan II dan Ekskomunikasi

Konsili yang dihadiri hampir 3000 uskup ini menghasilkan beberapa perubahan yang menyolok, antara lain: dalam perayaan Misa, imam tidak lagi membelakangi umat, dan bahasa setempat dapat digunakan (semula hanya bahasa Latin). Selain itu Konsili membuka pintu bagi aktivitas sosial, kebebasan berekspresi serta menaruh penghargaan pada agama-agama lain.

Apa yang dihasilkan Konsili, disambut dengan suka-cita dimana-mana. Di Afrika, misa dirayakan dengan iringan tambur yang meriah; di Amerika dengan gitar. Para wanita tidak lagi diwajibkan menutup kepala dengan kain saat masuk gereja dan para suster mulai mengganti jubah dan kerudung abad pertengahan dengan model yang lebih praktis.

Nampaknya tidak semua pihak senang dengan perubahan yang dihasilkan Konsili Vatikan II. Mgr. Marcel Lefebre (1905-1991) dari Perancis adalah salah satu yang menolak perubahan yang dicanangkan Konsili. Sejak itu Lefebre, yang pernah menjadi Uskup Agung Dakar hingga 1962, dikenal sebagai pelopor pembelot yang menentang perubahan di dalam gereja. Pada tahun 1970, Lefebre mendirikan Societas Santo Pius X (SSPX). Kelompok ini konon memiliki pengikut hingga satu juta orang (Reuters 22/01/09). Aktor film Mel Gibson kerap disebut-sebut sebagai salah satu pengikut Katolik tradisionalis seperti ini.

Kelompok Lefebre memiliki Seminari tersendiri yang berpusat di Swiss, mentahbiskan imam bahkan para uskup. Pada tanggal 30 Juni 1988, Lefebre mentahbiskan empat orang uskup, yaitu uskup Bernard Fellay, Bernard Tissier de Mallerais, Richard Williamson dan Alfonso de Galarreta. Sesuai hukum kanonik yang berlaku, tahbisan tersebut dianggap tidak syah. Karena kuasa memilih seorang uskup ada di tangan Vatikan/Paus. Karenanya, ke-empat uskup ini dijatuhi hukuman ekskomunikasi atau dicabut haknya sebagai anggota Gereja Katolik (1 Juli 1988). Itu terjadi pada masa Paus Yohanes Paulus II.

Usaha Rekonsiliasi dan Kecaman Yahudi

Mgr. Marcel Lefebre meninggal tahun 1991. Peranannya digantikan oleh uskup Bernard Fellay. Pada dasarnya kelompok yang anti pembaharuan gereja ini tetap menyadari diri mereka sebagai Katolik dan mengakui peranan Paus, pengganti Petrus. Sebagaimana dikemukakan Paus Benediktus, para uskup SSPX beberapa kali menghubunginya dan mengungkapkan keresahan hati mereka. “Karena itulah saya mengambil tindakan ini (mencabut hukuman ekskomunikasi). Saya harap tindakan saya ini diikuti langkah-langkah nyata dari pihak mereka menuju persatuan sempurna  dengan Gereja, dengan menunjukkan kesetiaan serta pengakuan akan kuasa Paus dan Konsili Vatikan II”, ujar Paus dalam kesempatan Audiensi umum (28/01/09).

Pencabutan hukuman ekskomunikasi 4 uskup yang diumumkan pada 24 Januari 2009 ini, menggemparkan kalangan Yahudi. Fasalnya, salah satu di antara 4 uskup tersebut, yaitu Richard Williamson pernah mengemukakan pernyataan yang mengagetkan banyak pihak. Dalam wawancara dengan TV Swedia pada bulan Nopember, namun baru disiarkan 21 Januari yang lalu, uskup kelahiran Inggris ini menyangkal adanya pembantaian 6 juta orang Yahudi pada jaman Nazi. Menurutnya, hanya sekitar 200 hingga 300 ribu saja orang Yahudi yang mati dan itupun bukan di dalam kamar gas.

Tak pelak komentar Richard Williamson ini membangkitkan amarah orang Yahudi di seantero dunia. Paus yang mencabut hukuman ekskomunikasi Williamson, tak luput dari kecaman. Paus dituding tidak memiliki kepedulian serta kepekaan terhadap orang Yahudi.

Menteri Israel urusan agama, Yitzhak Cohen mengancam akan memutus hubungan dengan Vatikan (PressTv, 01/02/09). Sementara pimpinan tertinggi umat Yahudi di Israel melayangkan surat berisi kepedihan mendalam atas keputusan Paus. Ia juga sekaligus membatalkan pertemuan dengan pihak Vatikan yang sedianya akan diadakan bulan Maret yang akan datang. Di AS, Abraham Foxman, direktur nasional Anti Penistaan umat Yahudi, menyatakan kekecewaannya atas keputusan Paus Benediktus XVI. “Keputusan ini amat mengganggu hubungan antara umat Katolik dan Yahudi yang tumbuh subur di bawah Paus Yohanes Paulus II”, ujarnya sebagaimana dikutip pelbagai media massa. Sementara di Jerman, Presiden Dewan Yahudi, Charlotte Knobloch memutuskan hubungan dengan Vatikan, sekurangnya untuk sementara waktu (Herald Tribune, 29/01/09)

Kekecewaan serta kecaman terus berdatangan, termasuk dari Elie Wiesel, mantan korban kekejaman Nazi yang berhasil meloloskan diri. Elie Wiesel, pengarang serta pemenang hadiah nobel perdamaian (1986), dalam wawancara dengan Reuters berkata: “Situasi ini sungguh tak terduga sebab kami mempunyai harapan tinggi atas relasi antara umat Yahudi dan Katolik yang telah dibangun dengan amat baik oleh dua Paus sebelumnya!” (Reuters 28/01/09).

Bantahan Vatikan

Juru bicara Vatikan, Pastor Federico Lombardi, membela keputusan Paus mencabut hukuman ekskomunikasi empat uskup tersebut. Menurutnya, keputusan tersebut tidak ada kaitannya dengan opini pribadi salah satu uskup terkait (BBC 24/01/09). Kardinal Angelo Bagnasco, presiden konferensi para Uskup Italia juga mendukung keputusan Paus. Namun, ia menyesalkan komentar yang tak adil yang diungkapkan uskup Williamson tentang orang Yahudi.

Harian resmi Vatikan, L’Osservatore Romano (27/01/09), menyebut komentar uskup Williamson tentang orang Yahudi, sebagai sesuatu yang tak dapat diterima, sangat serius dan amat disesalkan. Harian yang sama menegaskan kembali posisi serta ajaran resmi gereja yang menentang pandangan anti-semit (yang memusuhi serta bersikap buruk terhadap bangsa Yahudi) sebagaimana dicanangkan dalam dokumen Nostra Aetate.

Senada dengan itu, Kardinal Walter Kasper, yang bertanggung jawab atas hubungan dengan umat Yahudi, menyatakan bahwa penyangkalan adanya Holocaust (penyiksaan kaum Yahudi pada jaman Nazi, termasuk dalam kamar gas) adalah sesuatu yang tak bisa diterima dan berlawanan dengan pendapat Gereja Katolik. Ia menyebut komentar uskup Williamson sebagai bodoh (La Repubblica, 26/01/09).

Tak ketinggalan, Radio Vatikan dalam siarannya, memaparkan bukti-bukti kepedulian Paus Benediktus XVI terhadap nasib bangsa Yahudi. Radio ini menyebut beberapa peristiwa terkait, seperti kunjungan Paus Benediktus XVI ke Sinagoga di Koln, Jerman (2005), kunjungan ke Auschwitz (2006) serta beberapa komentar Paus yang menunjukkan kepeduliannya terhadap bangsa Yahudi. “Hendaknya kemanusiaan jaman ini tidak melupakan (kekejaman) Auschwitz dan pabrik-pabrik kematian lainnya yang dilakukan rezim Nazi guna menghilangkan Tuhan dan mengambil alih tempatnya”, ujar Paus Benediktus XVI sebagaimana disiarkan kembali Radio Vatikan.

Menanggapi kekecewaan orang Yahudi, Paus Benediktus XVI (28/01/09), secara langsung mengungkapkan solidaritas sepenuhnya dengan bangsa Yahudi yang ia sebut sebagai saudara tua. Dengan tegas Paus menentang segala pengingkaran atas kekejaman serta pembunuhan yang dilakukan rezim Nazi. Komentar Paus ini sekurangnya disambut positif oleh Oded Weiner, pemimpin umat Yahudi di Israel.

Sementara itu, dalam sebuah surat terbuka, uskup Williamson yang kini tinggal di Argentina, menyatakan penyesalannya. Kepada Kardinal Dario Castrillon Hoyos, mediator Vatikan, Williamson menulis: “Di tengah badai berita yang disebabkan oleh komentar saya yang kurang hati-hati dalam TV Swedia, dengan tulus saya mohon anda menerima penyesalan saya, karena telah membuat diri anda dan Bapa Suci menanggung persoalan serta kesusahan amat besar yang tak perlu”, tulis Williamson. Dalam surat yang sama, Williamson juga mengucapkan terima kasih kepada Paus atas dicabutnya hukuman ekskomunikasi. (BBC News 31/01/09).

Catatan: Misa Tridentine yang digunakan sejak thn. 1570 s/d 1962 masih digunakan secara resmi di beberapa tempat. Foto di atas diambil pada hari Minggu 01/02/09 di Gereja SS. Trinita dei Pellegrini, Roma. Misa masih membelakangi umat, menggunakan bahasa Latin, lagu Gregoriana, komuni dengan lidah dan sebagian wanita masih mengenakan penutup kepala.

Heri Kartono OSC(dimuat di majalah HIDUP edisi 22 Februari 2009).

Ksatria Templar.

KSATRIA TEMPLAR, ANTARA LEGENDA DAN REALITA. 

Ksatria Templar menjadi populer lewat buku Da Vinci Code. Kelompok ini didirikan dengan penuh kesahajaan, berkembang amat pesat namun berakhir secara tragis. Ada banyak legenda di seputar kelompok ini. Siapakah mereka dan sejauh mana kaitannya dengan Gereja Katolik?

Ksatria Berjiwa Rahib.

Ksatria Templar atau Knights Templar didirikan oleh Hughes de Payens, veteran Perang Salib Pertama bersama 8 orang sahabatnya pada tahun 1118. Di hadapan Patriach Yerusalem, mereka mengucapkan sumpah setia untuk membela agama Kristiani. Raja Baldwin II dari Yerusalem menerima mereka dan memberi mereka sebuah markas di bukit Kenisah (Temple Mount). Konon di atas bukit tersebut pernah berdiri Kenisah Salomon. Nama Ksatria Templar yang lengkapnya Poor Knights of Christ and the Temple of Solomon, diambil dari lokasi markas mereka ini.

Kelompok baru ini mengambil aturan Santo Bernardus dari Clairvaux, biarawan Ordo Cistercian sebagai cara hidup mereka. Karenanya, Para Ksatria Templar mengucapkan tiga kaul seperti layaknya biarawan biasa. (Sebagai biarawan kelompok  ini sering juga disebut Ordo Templar). Selain tiga kaul, merekapun mengucapkan sumpah lain, yaitu janji setia sebagai Ksatria Perang Salib. Seorang Ksatria Templar mengenakan jubah putih meniru jubah biarawan Cistercian, hanya mereka menambahkan sebuah salib merah besar pada jubah mereka. Pemimpin tertinggi Ksatria Templar disebut Grand Master atau Guru Agung. Jabatan ini disandang seumur hidup. Grand Master pertama adalah Hughes de Payens sendiri, sang pendiri yang berasal dari Perancis.

Tugas utama Ksatria Templar adalah menjaga keamanan para peziarah di tanah suci, khususnya di Yerusalem. Pada waktu itu banyak orang Kristiani dari Eropa datang ke Yerusalem untuk berziarah. Banyak orang mempercayakan harta bendanya kepada kelompok ini sebelum mereka melakukan peziarahan. Dalam perkembangannya, kelompok ini dikenal sebagai tempat penitipan harta benda yang aman dan bisa dipercaya (semacam bank penyimpanan). Karenanya tidak mengherankan bahwa dalam perjalanan waktu, Ksatria Templar banyak memiliki peninggalan harta benda dalam jumlah yang besar.

Sebagai Ksatria, anggota kelompok ini mendapat latihan serta disiplin militer yang tinggi. Kehebatan, keberanian serta daya juang mereka dalam peperangan tak pernah diragukan. Banyak tulisan yang menggambarkan kehebatan mereka. Mereka, antara lain, dilukiskan sebagai singa garang di medan perang namun domba jinak pada saat damai; satria buas dalam peperangan namun rahib yang saleh di dalam gereja. Dalam setiap peperangan, kelompok inilah yang tanpa ragu akan maju paling depan dan mundur paling akhir.

Dalam waktu singkat, kelompok ini dikenal dimana-mana dan berkembang amat pesat. Kehidupan mereka sebagai biarawan militan sekaligus sebagai pejuang yang gagah berani menjadi daya tarik yang luar biasa. Kelompok Ksatria Templar mulai membuka cabang-cabangnya di hampir semua negara di Eropa.

Kelompok ini juga mendapat kepercayaan yang amat besar dari penguasa gereja dalam berbagai bidang. Paus pada waktu itu memberi mereka banyak kemudahan serta keistimewaan. Hal ini sempat menimbulkan ketidak senangan di kalangan para biarawan biasa.

Akhir yang Tragis.

Sesudah berkembang sangat baik selama hampir 200 tahun, nasib Ksatria Templar berubah drastis pada awal tahun 1300-an. Pada waktu itu, Raja Perancis, Philip IV mengalami kesulitan keuangan yang luar biasa akibat peperangan melawan Inggris. Maka disusunlah suatu rencana busuk terhadap Ksatria Templar. Ada dua alasan, pertama, ia ingin menguasai kekayaan kelompok Templar, terutama yang tersebar di seluruh Perancis. Alasan kedua, ia tidak ingin membayar hutang-hutangnya yang amat besar kepada kelompok ini. Pada tanggal 13 Oktober 1307, atas perintah Raja Philip IV, semua Ksatria Templar di seluruh Perancis ditangkap secara serentak dengan pelbagai tuduhan palsu. Para Ksatria Templar dipaksa untuk mengakui tuduhan-tuduhan keji dan tidak sedikit di antara mereka disiksa dan dibunuh. Tiga pemimpin Templar, termasuk Grand Master mereka, Jacques de Molay dibakar hidup-hidup atas tuduhan ajaran sesat. Raja Philip IV dengan leluasa merampas segala harta kekayaan Templar yang ada di Perancis.

Di luar Perancis, Ksatria Templar masih bertahan kendati secara sembunyi-sembunyi.

Kenyataan ini memunculkan banyak legenda di sekitar kehidupan Templar. Di antara legenda tersebut antara lain soal kerahasiaan organisasi mereka serta soal misteri harta benda yang lama mereka simpan dan sembunyikan.

Apa yang ditulis Dan Brown dalam bukunya Da Vinci Code tentang Ksatria Templar dan misteri Holy Grail (Cawan Suci) adalah salah satu legenda yang sulit dibuktikan kebenarannya.

Puncak kesialan nasib Ksatria Templar terjadi ketika Paus Clement V dibawah tekanan kuat Raja Philip, membubarkan kelompok ini pada tahun 1312.

Ksatria Templar di Masa Sekarang.

Raja Philip IV menghancurkan hampir seluruh kelompok Templar di Perancis. Beberapa pemimpin negara Eropa lain mengikuti jejak Philip IV.

Penganiayaan Raja Philip IV serta pembubaran yang dilakukan Paus Clement V, memang membuat kelompok Templar tercerai-berai, namun tidak mati. Ksatria Templar masih terus hidup sampai saat ini.

Dalam perkembangannya, Gereja Katolik Roma menyatakan bahwa penganiayaan terhadap Kelompok Templar di masa Raja Philip IV adalah tidak adil. Tidak ada yang secara inheren salah pada kelompok tersebut ataupun pada peraturan mereka. Diakui juga bahwa Paus pada saat memutuskan pembubaran Templar, berada dalam tekanan berat Raja Philip IV.

Saat ini Ksatria Templar masih ada di beberapa negara. Di Italia saja sekurang-kurangnya ada dua kelompok Templar. Pada masa kini mereka tetap mengenakan  Jubah Putih dengan tanda salib besar warna merah sebagai pakaian resmi mereka. Selain itu mereka juga dilengkapi dengan pedang panjang, sebagaimana para Ksatria Templar di masa lalu. Para Templar ini berkumpul secara teratur.

Pada pertengahan bulan Juni 2006, Kelompok Templar pimpinan Fra. Enzo Mattani, mengadakan upacara penerimaan anggota baru di Gereja San Giorgio, Roma. Upacara diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin Pastor Andre Notelaers OSC dan Don Davide Pr.

Menurut Enzo Mattani, para Ksatria Templar yang dipimpinnya tetap memelihara dan menjunjung tinggi semangat dan spiritualitas Ksatria Templar asli. “Kelompok kami mengucapkan janji untuk setia kepada Gereja dan untuk membela ajaran Gereja!”, ujar Enzo yang sehari-harinya bekerja sebagai seorang Jaksa ini. Salah satu aktivitas konkrit para Templar adalah mengumpulkan dana dan membantu tempat-tempat yang membutuhkan. Mereka, misalnya, pernah mengirim obat-obatan untuk membantu korban perang di Irak.

Ksatria Templar berawal dari cita-cita mulia Hughes de Payens, pendiri mereka. Hughes telah lama mati dan Ksatria Templar sempat dikejar-kejar untuk dihabisi. Namun, cita-cita mulia yang pernah membakar semangat Hughes nampaknya masih belum padam. Cita-cita tersebut masih tetap menggetarkan hati banyak orang, entah sampai kapan!

Heri Kartono OSC.

(Dimuat di majalah HIDUP: 23 Juli 2006).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.